Jumat, 16 Desember 2011

BLESSING IN DISGUISE: Laporan Teleconferensi Antara Guru-guru SMA RSBI se DIY dengan Frankfurt dan Tokyo




Blessing in Disguise. Setelah gagal merencanakan workshop bagi guru-guru di sekolah-sekolah se-DIY, akhirnya datang juga kesempatan yang  langka ini.
Tamu undangan  sudah mulai berdatangan sejak pukul 14.30.Hingga detik terakhir menjelang pukul 15.00 WIB, Janine yang seharusnya muncul ternyata beranggapan waktunya sama dengan pukul  16.00 WIB. Akhirnya mas Miftah sungguh-sungguh menjadi penyelamat forum. 
Teleconference kali ini merupakan event yang cukup signifikan bagi Yogyakarta. Dengan mengambil momen pelatihan guru-guru bahasa Inggris dan para wakil kepala sekolah dari 15 sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) se Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta, kelompok belajar guru Bahasa Inggris berinisiatif mengisi materi kuliah Pembelajaran dengan memanfaatkan IT ini dengan berteleconferensi langsung dengan narasumber dari relawan 1000guru. Karena jumlah peserta hanya 15 orang, maka kami sepakat menambah audiense dengan mengundang guru-guru mata pelajaran MIPA dan Matematika dari sekolah kami masing-masing sehingga terundang kurang lebih 45 peserta. Dan alhamdulillah peserta yang hadir hampir 40an peserta.

Akhirnya pada pukul 15.00 WIB mas Miftah memulai presentasi yang berjudul utilizing Technology to Facilitate Learning yang ditulis bersama Hery The.  Materi ini sangat relevan dengan tujuan digelarnya acara ini. Beberapa guru bertanya seputar materi dan beberapa hal teknis dalam menyiapkan teleconferen. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, mas Miftah pamit sholat Asyar yang mungkin belum ditunaikan karena begitu sampai rumah, beliau langsung berkutat dengan komputer untuk menyiapkan presentasi. Betul-betul perlu diacungi dua jempol untuk dedikasi teman-teman aktivist 1000guru.
Tepat pada pukul 16.00, Janine masuk persis ketika para peserta sedang menunaikan ibadah sholat ayar WIB. Maka saya dan kru SMA Muha menyiapkan presentasi dengan Janine. Latar belakang tema presentasi Janine adalah memberi gambaran kepada para guru sekolah RSBI tentang bagaimana program imersi pendidikan diterapkan di Kanada. Dengan mengambil judul Implementing Language Immersion  Janine menggambarkan proses menuju program imersi yang diawali dengan menggambarkan pemakaian bahasa Perancis mulai dipakai sebagai bahasa pengantar, lalu dipakai 50% mendampingi bahasa Perancis sampai bahasa Perancis dipakai secara full alias 100% dan inilah yang dinamakan program imersi.
Janine juga memberikan gambaran bahwa program imersi ini memberikan beberapa keuntungan/manfaat antara lain meningkatnya kecakapan berbahasa, kesadaran keberagaman  budaya dan meningkatnya kesempatan kerja. Keuntungan lain adalah terbentuknya perspektif baru oleh siswa yaitu menambah motivasi, kebutuhan, dan dukungan.
Disamping sudut pandang siswa, keyakinan guru yang mengajar dengan menggunakan bahasa asing (bahasa kedua) juga perlu mendapat sorotan. Beberapa hambatan yang ditemukan di lapangan aantara lain sulitnya memotivasi siswa, dukungan,  kurangnya pelatihan yang mengkhususkan pada bahasa, lemahnya metodologi, lemahnya motivasi dan kurangnya waktu.
Upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah rekruitmen guru yang memenuhi syarat (qualified), mengembangkan kurikulum dan materi pengajaran yang up to date dan relevan bagi siswa, meyakinkan siswa gunanya program ini bagi masa depan mereka sebagai alternatif yang bermanfaat.
Diskusi ini dipandu oleh fasilitator kami yaitu Bapak Pius, seorang dosen dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Meskipun pertanyaan tidak terlalu banyak karena keterbatasan waktu namun kelihatan bahwa para peserta sangat tertarik dan beberapa mengungkapkan keinginan mereka mencoba metode ini dalam pembelajaran di sekolah mereka.
Sekali lagi terima kasih yang sangat besar untuk mas Miftah and also to Janine.

Semoga kesempatan ini menjadi batu loncatan 1000guru.net untuk masuk ke sekolah-sekolah di Yogyakarta secara lebih luas.

Rohmatunnazilah
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

Kamis, 15 Desember 2011

Giving Speech at The Farawell Party of Australian-Indonesian Students Exchange in Yogyakarta


Silaturrahmi "Darat" Aktifis 1000guru.com di Yogya (Indah, Ika, Rohma, David, Imron, Adim) 10 Juni 2011 Di Lombok Ijo,


Teleconference Activities Joined with 1000guru.com at SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

HARAPAN DARI SEBUAH TUGAS YANG KECIL



Sebuah keberhasilan dimulai dari hal kecil…….

Kadangkala,sebagai guru, kita mudah marah dengan murid yang agresif, tidak penurut, ngeyel dan malas. Percayalah bahwa hal ini karena kita belum belajar mengenal mengapa aksi ‘tidak mengenakkan’ ini dilakukan anak/remaja.

Seringkali saya merasa jengkel jika menemui situasi demikian. Yang saya pikirkan adalah bagaimana memberikan hukuman yang memberikan efek jera yang berdampak positif. Artinya endingnya, mereka mengerti apa yang saya maksudkan dengan ‘hukuman’ yang saya berikan.

Hukuman (punishment) adalah suatu tindakan yang harus membuat si terhukum memahami, mengerti dan menerima dangan kesadaran pribadi. Jika hukuman diberikan dengan rasa ‘marah’ oleh yang memberi hukuman, maka yang menerima juga akan terkena rasa marahnya. Maka mulailah saya berpikir untuk memberikan cara agar siswa memiliki efek jera.

Sebut saja namanya Raga, siswa tidak naik kelas karena ketidakdisiplinan. Sering bolos, tidak mengikuti pelajaran, tidak membawa buku saat belajar, tidak mau mengerjakan PR yang diberikan dan beberapa kenakalan yang agak serius seperti tawuran atau tindakan kekerasan sesama pelajar. Secara fisik, Raga memiliki penampilan yang cukup menyenangkan, tidak terlalu tinggi tapi mukanya bersih.Saya tidak habis pikir kenapa anak dengan penampilan cukup ‘polos’ dapat memiliki kebiasaan yang demikian. Saya pikir seandainya dia harus berperan dalam sebuah drama/sinetron mungkin sutradara akan memberikan karakter protagonis.

Suatu hari dengan hati jengkel, saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak membawa buku paket. Pertanyaan ini untuk memberikan saya data (informasi) sehingga saya akan dapat memberikan perlakuan yang proporsional. Saya merasa, penting bagi saya mengetahui sudut pandang dia. Saya paling takut memberi hukuman yang tergesa-gesa tanpa bertanya masalah yang dihadapi si anak.

Ternyata dia menjawab,‘bukunya dipinjam kakak kelas’. ‘lho, kenapa kamu pinjamkan? Kan kamu juga memerlukannya?’

Saya tidak habis pikir dengan jawaban yang begitu entengnya.Dan saya lebih surprise dengan jawaban selanjutnya, ‘temen saya perlu buku kelas XI karena dia sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, -siswa kelasXII perlu mengulang pelajaran 2 tahun sebelumnya."

Sya terhenyak. Saya pikir, Raga memiliki hati yang baik. Dia lebih mementingkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya.Lalu saya tanya, ‘berarti kamu juga tidak belajar semalam?’.

Dari situ sayamulai menyadari bahwa saya perlu mengajarkan kepada Raga sebuah kebiasaan sederhana yang seharusnya dilakukan seorang pelajar.

Saya umumkan di kelas bahwa saya akan memberi tugas yang berbeda kepada Raga. Jika siswa lain memdapatkan tugas rumah mengerjakan latihan, maka tugas untuk Raga adalah: menyiapkan buku pelajaran menjelang tidur dan harus menunjukkannya pada saat ada pelajaran saya.

Saya menjelaskan kepada siswa di kelas agar mereka tidak ‘iri’ kepada Raga, tetapi justru ‘membantu dan mendorong’ Raga agar dapat melakukan tugas ‘sederhana’ ini.

Saya katakan bahwa mereka lebih beruntung dibanding Raga karena mereka lebih cepat memahami bahwa menjadi seorang pelajar memiliki kewajiban dan tugas agar mereka berhasil menyelesaikan studinya.

Mereka akhirnya menjadi ‘saksi’ untuk tugas Raga dan mereka akan mengingatkan Raga untuk membawa tugas-nya pada pertemuan selanjutnya.Meskipun Raga tidak menyiapkan buku yang ditugaskan untuk dibawa pada malam hari karena dia menyiapkannya pada pagi hari menjelang berangkat sekolah, namun secara perlahan Raga menunjukkan perubahan yang positif.

Raga belajar sebuah nilai: bahwa untuk melakukan perubahan yang kecil dia harus melakukan tindakan-tindakan kecil yang sederhana. Tentu saja, menyiapkan buku pelajaran pada malam hari tanpa perlu membaca dan mengerjakan PR adalah tugas yang sangat sederhana.

Meskipun sangat sederhana, tugas ini menentukan cara pandang dia terhadap niat dia dalam studi. Mungkin selama ini dia sedang melawan keadaan sulit, misalnya dari keluarga, lingkungan atau temanyang memberikan dia label ‘anak gaul alias anak nakal’.

Lebih mudah bagi anak/remaja yang sudah masuk dalam sebuah lingkungan tertentu (baca=negatif) untuk menyesuaikan diri dengan temannya dibanding dia harus menyandang predikat siswa ‘baik dan penurut’. Ketika dia memilih menjalankan tugas sebagai siswa ‘baik’, lingkungan dia akan menjauh darinya, kecuali bila dia memiliki cara tertentu untuk tetap bertahan dalam lingkungan awalnya namun tetap melanjutkan langkahnya sebagai saswa ‘baik’.

Siswa dengan kondisi demikian memerlukan dukungan. Dukungan dapat dilakukan secara relax dan kontinyu. Tidak harus dilakukan dengan ketat.

Namun perlulah sesekali sambil mengobrol ringan disapa dan ditanyakan keadaannya, teman-temannnya dan hubungannya dengan para guru.

Cara ini sederhana namun akan memberi efek positif baginya untuk selalu memikirkan ulang langkah-langkah dia kedepan.

Paling tidak, dia akan berpikir bahwa dia masih memiliki harapan dan kesempatan.

Disamping itu dia juga memiliki teman dan dukungan.

Anda tahu, sejak itu tidak ada lagi kasus muncul dari seorang Raga dan dia lulus tepat waktu dengan tanpa masalah. Semuanya berawal dari sebuah tugas sederhana: menyiapkan buku pada malam hari.

Yogyakarta, 15 Desember 2011


hands holding the sun at dawn