Selasa, 20 Desember 2011
Jumat, 16 Desember 2011
BLESSING IN DISGUISE: Laporan Teleconferensi Antara Guru-guru SMA RSBI se DIY dengan Frankfurt dan Tokyo
Blessing
in Disguise. Setelah gagal merencanakan workshop bagi guru-guru di
sekolah-sekolah se-DIY, akhirnya datang juga kesempatan yang langka ini.
Tamu undangan sudah mulai berdatangan sejak pukul
14.30.Hingga detik terakhir menjelang pukul 15.00 WIB, Janine yang seharusnya
muncul ternyata beranggapan waktunya sama dengan pukul 16.00 WIB. Akhirnya mas Miftah
sungguh-sungguh menjadi penyelamat forum.
Teleconference kali ini merupakan
event yang cukup signifikan bagi Yogyakarta. Dengan mengambil momen pelatihan
guru-guru bahasa Inggris dan para wakil kepala sekolah dari 15 sekolah Rintisan
Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) se Provinsi daerah Istimewa Yogyakarta,
kelompok belajar guru Bahasa Inggris berinisiatif mengisi materi kuliah
Pembelajaran dengan memanfaatkan IT ini dengan berteleconferensi langsung
dengan narasumber dari relawan 1000guru. Karena jumlah peserta hanya 15 orang,
maka kami sepakat menambah audiense dengan mengundang guru-guru mata pelajaran
MIPA dan Matematika dari sekolah kami masing-masing sehingga terundang kurang
lebih 45 peserta. Dan alhamdulillah peserta yang hadir hampir 40an peserta.
Akhirnya pada pukul 15.00 WIB mas
Miftah memulai presentasi yang berjudul utilizing
Technology to Facilitate Learning yang ditulis bersama Hery The. Materi ini sangat relevan dengan tujuan
digelarnya acara ini. Beberapa guru bertanya seputar materi dan beberapa hal
teknis dalam menyiapkan teleconferen. Setelah menjawab beberapa pertanyaan, mas
Miftah pamit sholat Asyar yang mungkin belum ditunaikan karena begitu sampai
rumah, beliau langsung berkutat dengan komputer untuk menyiapkan presentasi.
Betul-betul perlu diacungi dua jempol untuk dedikasi teman-teman aktivist
1000guru.
Tepat pada pukul 16.00, Janine masuk
persis ketika para peserta sedang menunaikan ibadah sholat ayar WIB. Maka saya
dan kru SMA Muha menyiapkan presentasi dengan Janine. Latar belakang tema
presentasi Janine adalah memberi gambaran kepada para guru sekolah RSBI tentang
bagaimana program imersi pendidikan diterapkan di Kanada. Dengan mengambil
judul Implementing Language Immersion Janine menggambarkan proses menuju program
imersi yang diawali dengan menggambarkan pemakaian bahasa Perancis mulai
dipakai sebagai bahasa pengantar, lalu dipakai 50% mendampingi bahasa Perancis
sampai bahasa Perancis dipakai secara full alias 100% dan inilah yang dinamakan
program imersi.
Janine juga memberikan gambaran
bahwa program imersi ini memberikan beberapa keuntungan/manfaat antara lain
meningkatnya kecakapan berbahasa, kesadaran keberagaman budaya dan meningkatnya kesempatan kerja. Keuntungan
lain adalah terbentuknya perspektif baru oleh siswa yaitu menambah motivasi,
kebutuhan, dan dukungan.
Disamping sudut pandang siswa,
keyakinan guru yang mengajar dengan menggunakan bahasa asing (bahasa kedua)
juga perlu mendapat sorotan. Beberapa hambatan yang ditemukan di lapangan
aantara lain sulitnya memotivasi siswa, dukungan, kurangnya pelatihan yang mengkhususkan pada
bahasa, lemahnya metodologi, lemahnya motivasi dan kurangnya waktu.
Upaya-upaya yang perlu dilakukan
untuk mengatasi masalah ini adalah rekruitmen guru yang memenuhi syarat
(qualified), mengembangkan kurikulum dan materi pengajaran yang up to date dan
relevan bagi siswa, meyakinkan siswa gunanya program ini bagi masa depan mereka
sebagai alternatif yang bermanfaat.
Diskusi ini dipandu oleh fasilitator
kami yaitu Bapak Pius, seorang dosen dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Meskipun pertanyaan tidak terlalu
banyak karena keterbatasan waktu namun kelihatan bahwa para peserta sangat
tertarik dan beberapa mengungkapkan keinginan mereka mencoba metode ini dalam
pembelajaran di sekolah mereka.
Sekali lagi terima kasih yang sangat
besar untuk mas Miftah and also to Janine.
Semoga kesempatan ini menjadi batu
loncatan 1000guru.net untuk masuk ke sekolah-sekolah di Yogyakarta secara lebih
luas.
Rohmatunnazilah
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Kamis, 15 Desember 2011
HARAPAN DARI SEBUAH TUGAS YANG KECIL
Sebuah
keberhasilan dimulai dari hal kecil…….
Kadangkala,sebagai guru,
kita mudah marah dengan murid yang agresif, tidak penurut, ngeyel dan
malas. Percayalah bahwa hal ini karena kita belum belajar mengenal
mengapa aksi ‘tidak mengenakkan’ ini dilakukan anak/remaja.
Seringkali
saya merasa jengkel jika menemui situasi demikian. Yang saya pikirkan
adalah bagaimana memberikan hukuman yang memberikan efek jera yang
berdampak positif. Artinya endingnya, mereka mengerti apa yang saya
maksudkan dengan ‘hukuman’ yang saya berikan.
Hukuman
(punishment) adalah suatu tindakan yang harus membuat si terhukum
memahami, mengerti dan menerima dangan kesadaran pribadi. Jika hukuman
diberikan dengan rasa ‘marah’ oleh yang memberi hukuman, maka yang
menerima juga akan terkena rasa marahnya. Maka mulailah saya berpikir
untuk memberikan cara agar siswa memiliki efek jera.
Sebut saja
namanya Raga, siswa tidak naik kelas karena ketidakdisiplinan. Sering
bolos, tidak mengikuti pelajaran, tidak membawa buku saat belajar, tidak
mau mengerjakan PR yang diberikan dan beberapa kenakalan yang agak
serius seperti tawuran atau tindakan kekerasan sesama pelajar. Secara
fisik, Raga memiliki penampilan yang cukup menyenangkan, tidak terlalu
tinggi tapi mukanya bersih.Saya tidak habis pikir kenapa anak dengan
penampilan cukup ‘polos’ dapat memiliki kebiasaan yang demikian. Saya
pikir seandainya dia harus berperan dalam sebuah drama/sinetron mungkin
sutradara akan memberikan karakter protagonis.
Suatu hari dengan
hati jengkel, saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak membawa buku
paket. Pertanyaan ini untuk memberikan saya data (informasi) sehingga
saya akan dapat memberikan perlakuan yang proporsional. Saya merasa,
penting bagi saya mengetahui sudut pandang dia. Saya paling takut
memberi hukuman yang tergesa-gesa tanpa bertanya masalah yang dihadapi
si anak.
Ternyata dia menjawab,‘bukunya dipinjam kakak kelas’.
‘lho, kenapa kamu pinjamkan? Kan kamu juga memerlukannya?’
Saya
tidak habis pikir dengan jawaban yang begitu entengnya.Dan saya lebih
surprise dengan jawaban selanjutnya, ‘temen saya perlu buku kelas XI
karena dia sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, -siswa kelasXII
perlu mengulang pelajaran 2 tahun sebelumnya."
Sya terhenyak.
Saya pikir, Raga memiliki hati yang baik. Dia lebih mementingkan
kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya.Lalu saya tanya,
‘berarti kamu juga tidak belajar semalam?’.
Dari situ sayamulai
menyadari bahwa saya perlu mengajarkan kepada Raga sebuah kebiasaan
sederhana yang seharusnya dilakukan seorang pelajar.
Saya
umumkan di kelas bahwa saya akan memberi tugas yang berbeda kepada Raga.
Jika siswa lain memdapatkan tugas rumah mengerjakan latihan, maka tugas
untuk Raga adalah: menyiapkan buku pelajaran menjelang tidur dan harus
menunjukkannya pada saat ada pelajaran saya.
Saya menjelaskan
kepada siswa di kelas agar mereka tidak ‘iri’ kepada Raga, tetapi justru
‘membantu dan mendorong’ Raga agar dapat melakukan tugas ‘sederhana’
ini.
Saya katakan bahwa mereka lebih beruntung dibanding Raga
karena mereka lebih cepat memahami bahwa menjadi seorang pelajar
memiliki kewajiban dan tugas agar mereka berhasil menyelesaikan
studinya.
Mereka akhirnya menjadi ‘saksi’ untuk tugas Raga dan
mereka akan mengingatkan Raga untuk membawa tugas-nya pada pertemuan
selanjutnya.Meskipun Raga tidak menyiapkan buku yang ditugaskan untuk
dibawa pada malam hari karena dia menyiapkannya pada pagi hari menjelang
berangkat sekolah, namun secara perlahan Raga menunjukkan perubahan
yang positif.
Raga belajar sebuah nilai: bahwa untuk melakukan
perubahan yang kecil dia harus melakukan tindakan-tindakan kecil yang
sederhana. Tentu saja, menyiapkan buku pelajaran pada malam hari tanpa
perlu membaca dan mengerjakan PR adalah tugas yang sangat sederhana.
Meskipun
sangat sederhana, tugas ini menentukan cara pandang dia terhadap niat
dia dalam studi. Mungkin selama ini dia sedang melawan keadaan sulit,
misalnya dari keluarga, lingkungan atau temanyang memberikan dia label
‘anak gaul alias anak nakal’.
Lebih mudah bagi anak/remaja yang
sudah masuk dalam sebuah lingkungan tertentu (baca=negatif) untuk
menyesuaikan diri dengan temannya dibanding dia harus menyandang
predikat siswa ‘baik dan penurut’. Ketika dia memilih menjalankan tugas
sebagai siswa ‘baik’, lingkungan dia akan menjauh darinya, kecuali bila
dia memiliki cara tertentu untuk tetap bertahan dalam lingkungan awalnya
namun tetap melanjutkan langkahnya sebagai saswa ‘baik’.
Siswa
dengan kondisi demikian memerlukan dukungan. Dukungan dapat dilakukan
secara relax dan kontinyu. Tidak harus dilakukan dengan ketat.
Namun
perlulah sesekali sambil mengobrol ringan disapa dan ditanyakan
keadaannya, teman-temannnya dan hubungannya dengan para guru.
Cara
ini sederhana namun akan memberi efek positif baginya untuk selalu
memikirkan ulang langkah-langkah dia kedepan.
Paling tidak, dia
akan berpikir bahwa dia masih memiliki harapan dan kesempatan.
Disamping
itu dia juga memiliki teman dan dukungan.
Anda tahu, sejak itu
tidak ada lagi kasus muncul dari seorang Raga dan dia lulus tepat waktu
dengan tanpa masalah. Semuanya berawal dari sebuah tugas sederhana:
menyiapkan buku pada malam hari.
Yogyakarta, 15 Desember 2011

hands
holding the sun at dawn
Langganan:
Postingan (Atom)



