Kamis, 15 Desember 2011

HARAPAN DARI SEBUAH TUGAS YANG KECIL



Sebuah keberhasilan dimulai dari hal kecil…….

Kadangkala,sebagai guru, kita mudah marah dengan murid yang agresif, tidak penurut, ngeyel dan malas. Percayalah bahwa hal ini karena kita belum belajar mengenal mengapa aksi ‘tidak mengenakkan’ ini dilakukan anak/remaja.

Seringkali saya merasa jengkel jika menemui situasi demikian. Yang saya pikirkan adalah bagaimana memberikan hukuman yang memberikan efek jera yang berdampak positif. Artinya endingnya, mereka mengerti apa yang saya maksudkan dengan ‘hukuman’ yang saya berikan.

Hukuman (punishment) adalah suatu tindakan yang harus membuat si terhukum memahami, mengerti dan menerima dangan kesadaran pribadi. Jika hukuman diberikan dengan rasa ‘marah’ oleh yang memberi hukuman, maka yang menerima juga akan terkena rasa marahnya. Maka mulailah saya berpikir untuk memberikan cara agar siswa memiliki efek jera.

Sebut saja namanya Raga, siswa tidak naik kelas karena ketidakdisiplinan. Sering bolos, tidak mengikuti pelajaran, tidak membawa buku saat belajar, tidak mau mengerjakan PR yang diberikan dan beberapa kenakalan yang agak serius seperti tawuran atau tindakan kekerasan sesama pelajar. Secara fisik, Raga memiliki penampilan yang cukup menyenangkan, tidak terlalu tinggi tapi mukanya bersih.Saya tidak habis pikir kenapa anak dengan penampilan cukup ‘polos’ dapat memiliki kebiasaan yang demikian. Saya pikir seandainya dia harus berperan dalam sebuah drama/sinetron mungkin sutradara akan memberikan karakter protagonis.

Suatu hari dengan hati jengkel, saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak membawa buku paket. Pertanyaan ini untuk memberikan saya data (informasi) sehingga saya akan dapat memberikan perlakuan yang proporsional. Saya merasa, penting bagi saya mengetahui sudut pandang dia. Saya paling takut memberi hukuman yang tergesa-gesa tanpa bertanya masalah yang dihadapi si anak.

Ternyata dia menjawab,‘bukunya dipinjam kakak kelas’. ‘lho, kenapa kamu pinjamkan? Kan kamu juga memerlukannya?’

Saya tidak habis pikir dengan jawaban yang begitu entengnya.Dan saya lebih surprise dengan jawaban selanjutnya, ‘temen saya perlu buku kelas XI karena dia sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, -siswa kelasXII perlu mengulang pelajaran 2 tahun sebelumnya."

Sya terhenyak. Saya pikir, Raga memiliki hati yang baik. Dia lebih mementingkan kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya.Lalu saya tanya, ‘berarti kamu juga tidak belajar semalam?’.

Dari situ sayamulai menyadari bahwa saya perlu mengajarkan kepada Raga sebuah kebiasaan sederhana yang seharusnya dilakukan seorang pelajar.

Saya umumkan di kelas bahwa saya akan memberi tugas yang berbeda kepada Raga. Jika siswa lain memdapatkan tugas rumah mengerjakan latihan, maka tugas untuk Raga adalah: menyiapkan buku pelajaran menjelang tidur dan harus menunjukkannya pada saat ada pelajaran saya.

Saya menjelaskan kepada siswa di kelas agar mereka tidak ‘iri’ kepada Raga, tetapi justru ‘membantu dan mendorong’ Raga agar dapat melakukan tugas ‘sederhana’ ini.

Saya katakan bahwa mereka lebih beruntung dibanding Raga karena mereka lebih cepat memahami bahwa menjadi seorang pelajar memiliki kewajiban dan tugas agar mereka berhasil menyelesaikan studinya.

Mereka akhirnya menjadi ‘saksi’ untuk tugas Raga dan mereka akan mengingatkan Raga untuk membawa tugas-nya pada pertemuan selanjutnya.Meskipun Raga tidak menyiapkan buku yang ditugaskan untuk dibawa pada malam hari karena dia menyiapkannya pada pagi hari menjelang berangkat sekolah, namun secara perlahan Raga menunjukkan perubahan yang positif.

Raga belajar sebuah nilai: bahwa untuk melakukan perubahan yang kecil dia harus melakukan tindakan-tindakan kecil yang sederhana. Tentu saja, menyiapkan buku pelajaran pada malam hari tanpa perlu membaca dan mengerjakan PR adalah tugas yang sangat sederhana.

Meskipun sangat sederhana, tugas ini menentukan cara pandang dia terhadap niat dia dalam studi. Mungkin selama ini dia sedang melawan keadaan sulit, misalnya dari keluarga, lingkungan atau temanyang memberikan dia label ‘anak gaul alias anak nakal’.

Lebih mudah bagi anak/remaja yang sudah masuk dalam sebuah lingkungan tertentu (baca=negatif) untuk menyesuaikan diri dengan temannya dibanding dia harus menyandang predikat siswa ‘baik dan penurut’. Ketika dia memilih menjalankan tugas sebagai siswa ‘baik’, lingkungan dia akan menjauh darinya, kecuali bila dia memiliki cara tertentu untuk tetap bertahan dalam lingkungan awalnya namun tetap melanjutkan langkahnya sebagai saswa ‘baik’.

Siswa dengan kondisi demikian memerlukan dukungan. Dukungan dapat dilakukan secara relax dan kontinyu. Tidak harus dilakukan dengan ketat.

Namun perlulah sesekali sambil mengobrol ringan disapa dan ditanyakan keadaannya, teman-temannnya dan hubungannya dengan para guru.

Cara ini sederhana namun akan memberi efek positif baginya untuk selalu memikirkan ulang langkah-langkah dia kedepan.

Paling tidak, dia akan berpikir bahwa dia masih memiliki harapan dan kesempatan.

Disamping itu dia juga memiliki teman dan dukungan.

Anda tahu, sejak itu tidak ada lagi kasus muncul dari seorang Raga dan dia lulus tepat waktu dengan tanpa masalah. Semuanya berawal dari sebuah tugas sederhana: menyiapkan buku pada malam hari.

Yogyakarta, 15 Desember 2011


hands holding the sun at dawn

2 komentar:

  1. hal yang kecil awal suatu keberhasilan yang besar... saya sedang coba yakinkan itu pada diri saya sekarang!!!

    sya suka cara ibu merubah Rega... jenius

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal pencari ilmu selamanya,

      semoga anda berhasil mencobanya

      Hapus