Senin, 11 November 2013

Mengenang Masa Indah dengan kelas yang paling heboh sepanjang sejarah mengajarku

http://www.smuha-yog.sch.id/cetak.php?id=107

Senin, 29 April 2013

Wajib Belajar 9 Tahun, Sudahkah Dinikmati Orang Miskin?

Kisah ini benar-benar terjadi
tidak dikarang-karang





Suatu hari pada awal tahun ajaran baru lalu, seorang teman yang akan memasukkan anaknya ke sebuah SMP Negeri terkenal di Yogyakarta bertandang ke rumah dan menyampaikan ketakutannya bahwa anaknya yang secara normatif mendapatkan hak menjadi siswa di sekolah tersebut terancam bakal tidak dapat mengenyam pendidikan. Selepas Yogyakarta disembur awan panas, sang bapak ini harus memulai merintis bisnisnya dari awal lagi sehingga untuk menyediakan sejumlah uang ‘sumbangan gedung’ sama sekali belum mampu dia pikirkan.

Mendengar curhatnya tersebut, saya sampaikan bahwa program wajib belajar 9 tahun berarti pemerintah menanggung biaya belajar setiap warga negara Indonesia melalui sekolah-sekolah negeri. Dengan demikian, sekolah SD dan SMP negeri tidak diperkenan memberikan beban uang apapun khusunya bagi masyarakat tidak mampu. Dengan sedikit keras saya memberikan kekuatan kepada kawan ini bahwa masyarakat dapat menuntut pemerintah melalui sekolah-sekolah negeri ini jika sampai anak dari masyarakat kurang mampu ini tidak bisa bersekolah gara-gara tidak mampu membayar uang sumbangan. 




Akhirnya datanglah kawan ini beberapa hari setelah itu dengan senyum cerahnya dan bilang terima kasih karena anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut tanpa membayar sesenpun.
Kisah ini pada jeda waktu yang sama sebenarnya tidak hanya dialami oleh kawan saya ini, karena kawan lain juga mengalami hal yang sama dan cerita bahwa banyak tetangga desanya menarik anaknya dari sekolah-sekolah SMP yang berstatus negeri karena tidak mampu membayar uang seragam atau uang sumbangan lain. 

Sungguh bagi saya sebagai guru (pendidik), kisah ini sangat mengiris hati. Mengapa logika wajib belajar 9 tahun (bahkan sekarang akan dinaikkan menjadi wajar 12 tahun) yang belum secara detail dipahami masyarakat, khususnya masyarakat kurang mampu, justru dimanfaatkan oleh sesama pendidik yang dalam hal ini para panitia seleksi siswa baru (managemen sekolah) untuk dibiarkan saja tidak dipahami sehingga masyarakat tetap tidak mengerti dan menjadi korban kecurangan. Komite sekolah secara tidak langsung terkadang memberi kontribusi untuk memproduksi kebijakan yang kurang pro kepada kalangan masyarakat miskin. Pihak sekolah akan menggunakan dalil keputusan atau kesepakatan komite sekolah untuk menekan para orang tua siswa agar mengeluarkan sekian juta biaya tahunan atau biaya pembangunan. 

Bagi masyarakat yang memahami hukum, maka mereka akan berani berargumentasi dengan pihak sekolah supaya memberikan keringanan. Tetapi akan lain masalahnya jika hal ini menimpa masyarakat petani miskin yang sama sekali tidak mengerti apa itu wajib belajar 9 tahun. Mereka hanya akan terdiam dan memilih memutuskan tidak menyekolahkan anaknya daripada kebingungan untuk memikirkan bagaimana mencari uang ratusan atau bahkan jutaan rupiah.
Fenomena ini sepertinya sesuai dengan data bahwa kemiskinan menjadi sebab utama angka putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.



Data-data menunjukkan bahwa kenaikan anggaran pendidikan yang signifikan ternyata tak berbanding lurus dengan upaya penghentian siswa putus sekolah. Tanpa mengurangi penghargaan saya kepada jajaran pemangku kebijakan khususnya di Kemendiknas yang telah merancang dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang jumlahnya cukup besar (Rp 200 ribu/bulan per siswa) bagi siswa kurang mampu (pemegang KMS), namun diperlukan sosialisasi yang mengakar yang bisa dilakukan hingga pedesaan bahkan sampai pedukuhan sehingga hal-hal seperti ini tidak lagi terjadi di masyarakat kita. 

Meskipun juga tidak semua sekolah dan semua pendidik melakukan distorsi informasi kepada masyarakat, namun tindakan demikian sangat disayangkan dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi pihak yang mengayomi dan melindungi generasi Indonesia dalam memperoleh hak pendidikan. 

Melihat fakta-fakta ini, pemerintah dalam hal ini Kemendiknas akan mendapat PR yang semakin besar dengan direalisasikannya wajar 12 tahun. Maka untuk menyelamatkan generasi Indonesia dari terlanggarnya hak memperoleh pendidikan maka peran kita sebagai masyarakat sangat diperlukan untuk menyebarluaskan informasi yang akan membantu masyarakat untuk memperoleh haknya sebagai warga negara.

Diupload pada:
 http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/31/wajib-belajar-9-tahun-sudahkah-dinikmati-orang-miskin-426901.html

Belajar Memberi Dukungan


Menjadi seorang  pendidik  tidak selalu menyenangkan, apalagi jika menemui siswa yang bermasalah. Namun akan lain rasanya jika kita mengetahui siswa yang dulu ‘bermasalah’  ternyata berhasil melampauinya dengan baik dan berhasil.

Sebut saja namanya Arimbi.  Tiba-tiba seseorang menitipkan pesan ada bingkisan untuk saya. Setelah dibuka ternyata kado dari Arimbi.  Saya jadi teringat kelas beberapa tahun yang lalu dimana saya menjadi wali kelasnya. Ketika diumumkan saya menjadi wali kelas tersebut, para guru tersenyum dan beberapa berkomentar “wah, dapat kelas yang hebat”.  Semua sudah tahu bahwa kelas ini memang selalu  muncul masalah dari tahun ke tahun. Meskipun kelas diisi oleh siswa yang berbeda. 





Meskipun bukan kali pertama menjadi wali kelas di kelas kategori susah, namun perlu disiapkan strategi untuk mengantar kelas tersebut agar para siswanya tidak menghadapi masalah, khususnya akademik dan non akademik yang akan menjadi penghalang pada saat kenaikan kelas. Beberapa kasus non akademik  yang berpotensi menjadi penghalang siswa untuk tidak naik kelas adalah kedisiplinan misalnya sering bolos atau kekerasan misalnya perkelahian atau tawuran.
Antisipasi untuk potensi kenakalan yang mengarah pada kekerasan (perkelahian dan tawuran) sudah berhasil diantisipasi karena sepanjang satu tahun kita lewati, tidak satupun kasus kekerasan muncul dari kelas ini. Namun justru mulai muncul masalah yang bersifat individu.  Ada beberapa kasus, salah satunya datang dari Arimbi.  Siswi  pendiam dan belum pernah bermasalah, tiba-tiba tidak mau masuk sekolah. Saya pikir hanya masalah kecil sampai orang tuanya menelpun meminta bertemu dengan wali kelas dan wali BK.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata  sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian  Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.

Saya berdiskusi dengan guru BK-nya dan kami meneliti penyebabnya dengan mencari informasi melalui teman, guru, dan orang tuanya. Rupanya kami berhasil membuat kesimpulan sementara bahwa masalah yang menyebabkan Arimbi tidak mau masuk kelas adalah jika ada tugas yang harus dilakukan dengan berkelompok.
Arimbi anak yang pendiam dan hanya punya satu teman, yaitu Dina, teman sebangkunya. Setelah dilakukan pengamatan disimpulkan memang Arimbi tidak pandai berteman. Meski dia tidak pernah membuat masalah, saya sebenarnya sudah agak khawatir dengan sikapnya yang terlalu pendiam. Semula saya menduga, Arimbi minder. Saya mendorong teman-temannya untuk mau mengajaknya berkomunikasi dan bermain bersama. Saya sendiri mendorong dia untuk mau berteman dengan bertanya dan mendorong supaya dia ke kantin bersama temannya.

Sampai akhirnya saya melihat masalah ini manjadi serius ketika orantuanya menginformasikan bahwa putri mereka tidak mau bangun dan keluar dari kamarnya serta mengatakan tidak mau sekolah. Dia meminta untuk homeschooling. Wah, ini menjadi sangat serius. Saya merasa saya tidak boleh membiarkan ini sampai saya tahu masalah sebenarnya.
Langkah pertama yang saya ambil adalah mencoba membuka dialog dengan Arimbi dan membujuknya kembali ke sekolah dan kedua menyiapkan kondisi sosial yang mendukung dia  di kelasnya setelah saya berhasil membujuknya kembali ke kelas.





Saya yakin bahwa membujuk Arimbi untuk kembali ke kelas, mungkin bisa dilakukan dengan tidak terlalu sulit. Tetapi membuat dia untuk tetap bertahan  berada pada lingkungan kelas adalah hal yang tidak mungkin dilakukan tanpa kerjasama dan dukungan teman-temannya. Arimbi akhinya kembali dengan bantuan seorang teman psikolog yang mengembalikan dia ke sekolah tanpa harus memilih home school.

Inilah bagian tersulitnya. Membuat teman-teman di kelas menerimanya dan mau menjadi temannya. Memang pada awalnya sekelompok anak tidak melihat kepentingan mereka harus memberi dukungan pada Arimbi. Bagi mereka, tidak ada untungnya mereka harus menjadi orang yang harus memahami. Meskipun sebagian lagi telah menyatakan dukungannya. Sebagian lagi mau mendukung tetapi menyerah karena masalah psikologis Arimbi memang juga membuat mereka merasa dia tidak mau bekerja sama.

Pada akhirnya kelas ini menjadi solid ketika diajak berkunjung ke sebuah panti penyandang cacat. Saya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memilih harus dilahirkan oleh orang tua yang mapan, dengan kondisi tubuh yang normal dan diberi otak yang cerdas. Maka sebagai anak yang dilahirkan normal, sehat jasmani/rokhani  dan orangtua yang cukup mapan, maka tugas kita adalah tidak merendahkan dan memberi dukungan kepada mereka yang dilahirkan tidak sempurna seperti kita. Dengan sedikit shock terapi ini mereka menjadi sadar dan menerima keadaan Arimbi yang jauh lebih memungkinkan mereka dukung dibanding dengan para penyandang cacat yang bahkan tidak punya kaki dan tangan.

Mendukung Arimbi akhirnya terasa lebih mungkin dan lebih mudah mereka lakukan. Berteman dengan Arimbi akhirnya menjadi hal sederhana yang akan membuat mereka menjadi anak yang  ‘berarti’. Menjadi remaja yang ‘baik’ dan tidak ‘bandel’ menjadi hal yang layak mereka pilih.
Akhirnya, tidak satupun siswa di kelas yang berpotensi masalah ini tinggal  kelas. Semua naik kelas dengan bantuan dan dukungan teman. Dan mereka belajar bagaimana cara memberi dukungan. 

aseperti dimuat pada:
 http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=754
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/05/belajar-memberi-dukungan-483370.html

KADO ULTAH






Ketika kegelisahan menyergap sangat, Hanya coretan kegalauan yang tersisa
Mudah-mudahan ini menjadi obat galau, betapa tidak mudah menjaga sebuah visi yang besar
Dan sudah terlanjur besaryang namanya …. M-u-h-a-m-m-a-d-i-y-a-h

Kira-kira 62 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 2 Oktober 1950 di sebuah rumah milik Bapak  H. Sarbini, berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang akhirnya diberi nama SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lahirnya sekolah ini berangkat dari sebuah ketulusan dan kecintaan terhadap Muhammadiyah dan dunia pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 dibangun dari keprihatinan, kesederhanaan, keikhlasan dan kecintaan. Para pendiri bermaksud untuk memberi wadah pendidikan bagi warga Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang saat itu memerlukan wadah lebih besar setelah  SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta tidak lagi mampu menampung animo masyarakat.

Ditilik dari tahun berdirinya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta lahir tidak lama setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Kekuasaan kolonial telah melahirkan stratifikasi atau kelompok masyarakat: penduduk pribumi pada lapisan terendah, penduduk Eropa menduduki kelompok atas dan penduduk Timur Asing seperti orang Cina, Jepang, Arab dan India. Penguasa kolonial tentu saja akan membatasi sesempit-sempitnya bagi kelompok pribumi untuk mendapatkan akses pendidikan demi kepentingan kolonialnya. Meskipun pada tahun 1950 Indonesia secara definitif sudah menyatakan merdeka, tetapi secara politis keadaan negara Indonesia masa itu belum aman dan bebas. Hal inilah yang membuat pendirian lembaga pendidikan yang lahir dari inisiatif pribumi akan menjadi sangat strategis.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang
¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

Semangat KH. A. Dahlan tersebut diimplikasikan antara lain dalam pembangunan dunia pendidikan di tanah air. Apa yang dilakukan KH. A. Dahlan lewat Muhammadiyah melalui kiprah dakwah dan amal usahanya semuanya di khikmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal.
  
Di tengah gegap gempita rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memeriahkan hari lahirnya, tulisan  ini diharapkan dapat melihat lebih jauh siapa dan apa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, dari mana asalnya dan apa arah didirikannya. Mudah-mudahan renungan ini mampu menjadi penghibur sekaligus kado bagi para pendiri sehingga mereka tidak boleh pernah menyesal telah mendirikan sekolah ini.

              Pada pendahuluan tulisan ini, dapat digambarkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari persyarikatan Muhammadiyah sehingga derapnya tidak terlepas dari tujuan Muhammadiyah. Dalam maklumat
  PP Muhammadiyah tentang tuntunan penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke-102 ditegaskan bahwa peringatan Milad yang diselenggarakan baik oleh Pimpinan Ortom dari Wilayah hingga Ranting maupun AUM, didasarkan pada rasa keprihatinan terhadap persoalan bangsa sehingga tema yang diangkat adalah “Muhammadiyah Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa”.
Potret
  SMA Muhammadiyah 2  Yogyakarta saat ini dapat digambarkan dari sisi pencapaian yang berupa prestasi-prestasi yang sudah diraihnya. Sejak mendapat penetapan dari Direktorat  Pendidikan DEPDIKNAS sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional  (SMA  RSBI), sekolah ini telah mendapat capaian positif, sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik dapat dituangkan dalam berlembar-lembar kertas. Kunjungan-kunjungan dari sekolah atau lembaga domestik maupun dari luar negeri cukup memperlihatkan bahwa sekolah kita adalah sekolah yang dipandang baik.

Semua capaian ini tidak akan hanya menjadi upaya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menjaga eksistensinya dari dunia modern yang penuh dengan sifat kompetitif. Tidak ada yang salah dengan langkah-langkah pemertahanan diri. Namun hal ini tidak dapat dibiarkan karena semakin lama perjalanan AUM ini akan sekedar berupaya memenuhi kebutuhan publik modern an sich. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka apa  yang dicita-citakan oleh para pendiri AUM tidak akan ada bedanya dengan pendirian perusahaan yang hanya berujung pada masalah profit belaka. KH. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah hanya ditujukan dan dikhidmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal.  Ditengah tekanan kolonialisme,  gagasan mendirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan bangsa  tidak mungkin dilakukan sekedar jika hanya berpikir apakah lembaga pendidikan ini akan mendatangkan  keuntungan?

Orientasi sekolah-sekolah kini adalah bagaimana tetap bertahan hidup, bukan mencari apa yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengembalikan martabatnya dari persoalan-persoalan kebangsaan, lalu bagaimana melahirkan generasi masa depan yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini. Maka tema yang diangkat oleh PP Muhammadiyah dalam memperingati Milad yaitu Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa sangatlah tepat untuk digali oleh aktivis penggerak organisasi, simpatisan maupun seluruh warga  Persyarikatan untuk menyongsong masa depan. 
Muhammadiyah, baik langsung maupun tidak, semestinya turut bertanggung jawab terhadap persoalan kebangsaan. Persoalan bangsa ini adalah persoalan Muhammadiyah. Dan persoalan Muhammadiyah berarti juga menjadi tanggungjawab AUM khususnya yang bergerak di level akar rumput (grassroot) dan di bidang pencetak generasi. Maka AUM di bidang pendidikan akan menjadi ujung  tombak  bagi  upaya menjawab persoalan bangsa.
Tema “Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa” sebenarnya sebuah ironi dalam lembaga pendidikan. Pendidikan semestinya diselenggarakan untuk merubah perilaku.  Ketika visi ini tidak lagi menjadi fokus, maka penyelenggaraan pendidikan hanya akan ditelan oleh tuntutan material peradaban modern. Seorang  guru ekonomi hanya akan mengingatkan siswanya bagaimana prinsip-prinsip ekonomi menurut para tokoh ekonomi, tetapi lupa memberi tekanan apa manfaat belajar prinsip-prinsip ekonomi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan yang manusiawi. Siswa hanya mengingat, menghapal dan menganalisa aktifitas ekonomi modern yang didominasi oleh teori-teori yang lahir dari barat, tetapi tidak mampu berempati terhadap sistem perekonomian kerakyatan.

Mengapa visi pendidikan ini tidak lagi hidup di benak para pendidik maupun pengambil kebijakan? Visi pendidikan yang merupakan harapan dari para pendiri sekolah kita untuk mencetak generasi kuat,  diselewengkan sekedar  tempat yang menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan fisik semata. Tempat ini sekarang seolah hanya mesin peradaban modern tanpa mengenal jati diri. Jika standar RSBI atau ISO menjadi tuntutan dunia pendidikan modern, maka ikutlah kita, sehingga kita akan menjadi bagian dari kehidupan modern tersebut. Kita lupa bahwa kepentingan hakiki dari  pendidikan adalah menciptakan generasi hidup yang tangguh menghadapi kepalsuan dan kemayaan. Pendidikan seharusnya menggali dan menegakkan diri meskipun berada pada ruang dan waktu yang berbeda.

Jika pendirian SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada masanya adalah untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan bangsa saat itu, melahirkan generasi yang berkepribadian tangguh dalam menghadapi kolonialisasi, maka seharusnya SMA Muhammadiyah 2 hari ini, pada ulang tahunnya yang ke-62 merevitalisasi dirinya pada sebuah redefinisi apa sebenarnya kebutuhan bangsa ini sekarang dan ke depan.
                    Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini
  membuka  sedikit  simpul  kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.



  
Yogyakarta,, 1 oktober 2012

Catatan dini hari menjelang Milad ke-62
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Dimuat pada
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=773





Jumat, 26 April 2013

Terkabulnya cita-cita kuliah di luar negeri




Akhirnya terkabul juga cita-cita Fatia Magistra yang "keukeh" hanya akan melanjutkan studi di manca negara, di negara yang sistem pendidikannya memungkinkan bagi siswa/mahasiswanya berkembang (demikian keyakinan Fatia, putri dari Ibu Trias Setiawati). Semoga hari ini menjadi awalan yang baik. Dan saya yakin 'somehow' dia akan bisa mewujudkannya dengan "sangat sabar".
Ok, fatia, selamat ya. You deserved!!!! Goodluck.
Fatia Magistra adalah siswa (alumni) SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang tulisannya dimuat pada web 1000guru. Dia juga sangat aktif mengikuti kegiatan teleconference (angkatan tahun pertama) di sekolah dan salah satu siswa yang sangat berbakat.
Kepada siapapun yang pernah menjadi nara sumber di SMA Muhammadiyah 2, Mas Ali Imron, J. Murphy, pak Teguh Dartanto, pak Agung dan banyak lagi yang tidak dapat disebut namanya, terima kasih telah memberi inspirasi kepada anak2 ini,.....
Selain Fatia masih banyak siswa angkatan tersebut yang berhasil meraih impiannya masuk dalam perguruan tinggi yang mereka inginkan:
Rizky Fariz,Tubagus, saras (UGM), Alan Adityo (Telkom), Saras (UGM), dan masih banyak yang lainnya
sekali lagi 1000guru.net dengan para relawannya telah sangat berkontribusi kepada pendidikan Indonesia.

Bravo....

 http://www.1000guru.net/baru/component/content/article/43-lain-lain/93-terkabulnya-cita-cita-kuliah-di-luar-negeri



Sekolah Telah Tiba: I Love Back to School


13574559771750109919


Jika ada lagu berjudul ‘Libur Telah Tiba’, maka slogan ‘Sekolah Telah Tiba”, rasanya lebih cocok untuk keadaan saat ini. Dua minggu lebih para siswa sudah libur, kecuali siswa kelas XII yang harus menambah pendalaman materi selama beberapa hari untuk mempersiapkan Ujian Nasional di waktu dekat nanti.
Mungkin banyak dari kita yang berseloroh ‘wah, liburnya sudah habis’, atau ‘selamat datang tugas-tugas dan kesibukan yang banyak dan menggunung’. Selorohan ini adalah hal yang jamak terjadi. Fenomena dimana banyak dari kita yang merasa ‘tidak suka kembali kepada pekerjaan kita’ bisa di-analog-kan dengan istilah yang nge-trend dengan “I hate Monday”. Istilah ini sangat popular di kalangan pekerja. Saya-pun jika sudah terlalu padat jadwalnya akan berpikir jumat sore adalah hari yang sungguh melegakan karena akan dapat libur sabtu dan minggu. Tetapi keesokannya pada minggu sore akan bilang “I hate Monday”.
Namun, beberapa hari lalu, paman sekaligus teman dialog kami datang membawa buku Arvan Pradiansyah, seorang Happier Inspirer, berjudul “I Love Monday”.
Yang menarik dari buku tersebut adalah penulisnya membalik 180 derajat paradigma “I Hate Monday” menjadi “I love Monday”. Kata “hate’ yang berarti membenci di-antonim-kan dengan kata “love” yang berarti mencintai.
Mengapa kita harus berkata “ I love Monday” atau “I Hate Monday”? Monday adalah simbol mulainya kita bekerja. Isyarat bahwa dalam kalender mingguan kita, hari dimulai Senin berakhir dengan Minggu. Maka ketika kita memasuki hari Senin (Monday), kita selalu membayangkan hari-hari yang penuh dengan kesibukan dengan pekerjaan, tugas sekolah dan lainnya. Bagaimana supaya kita bisa menikmati hari memulai semua kesibukan tersebut?
Arvan Pradiansyah dalam bukunya mengajak pembacanya pada satu titik bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini.
Mengapa kita harus bekerja atau belajar? Arvan membagi tiga paradigma.
Pertama, ketika kita melihat pekerjaan (=baca bersekolah atau belajar) hanya sebagai Job. Jika anda sebagai pekerja maka alasan anda bekerja adalah karena ingin mendapatkan uang. Jika anda murid, maka motivasi anda bersekolah adalah untuk mendapatkan nilai bagus atau bahkan hanya karena memang harus ke sekolah. Soalnya semua anak harus pergi ke sekolah. Maka, bekerja atau bersekolah akhirnya hanya menjadi kewajiban, bukan sebuah pilihan. Bekerja dan belajar menjadi sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang kita senangi. Maka PR, ulangan, mencatat, menyimak dan menghapal bagi para siswa hanya akan menjadi aktifitas yang menyiksa. Aktifitas yang harus segera diselesaikan bagi para pekerja adalah ‘mengingat bos sudah men-deadline pekerjaan kita’. Atau guru kita sudah menunggu tugas kita.
Kata Arvan Pradiansyah, kita sedang melakukan skenario orang lain. Para pekerja menyelesaikan tugas dari bos-nya dan para siswa belajar karena dituntut oleh gurunya. Celakalah bagi pekerja yang hanya sekedar melakukan pekerjaan bagi kesenangan dan kepuasan bos-nya. Apalagi jika bos-nya tidak kompeten. Ketika bos- kita tidak suka lagi, dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak kita duga. Bahkan, sepandai dan sebagus apapun kita bekerja, dia akan tetap berkata I don’t like you, so I don’t need you. Bagi para siswa, tugas yang dikerjakan dengan maksud untuk memenuhi kewajiban, maka dia akan stress jika kurang paham bagaimana cara mengerjakannya. Maka yang terjadi bahkan menjurus ke kegiatan yang tidak jujur, misalnya mencontek PR teman dan membuka catatan ketika ujian atau ulangan. Maka menurut saya, kita sedang melakukan hal yang berbahaya dan justru merugikan kita.
Paradigm kedua adalah melihat pekerjaan sebagai karir. Lumayan bagus pada tahap ini, karena pekerja memainkan peran sutradara. Pekerja menyusun rencana besar. Setelah saya melakukan ini, saya akan menduduki posisi A, lalu setelah itu posisi B akan dapat diraih dan seterusnya. Bagi para siswa, belajar akan mengantar anda meraih cita-cita, masa depan anda. Kata Arvan Pradiansyah hal ini membuat kita bersemangat dan ini merupakan rumus kesuksesan.
Beberapa tahun lalu saya berada pada tahap ini. Setiap saya merencanakan program A saya akan menduduki posisi A, dan pada program B, saya akan menduduki posisi B. Apa yang terjadi pada kita? Kita menjadi sebuah mesin. Kita menikmati penghargaan nominal dari apa yang sudah dilaukan. Bahkan kita dapat pujian dari yang kita lakukan.  Seorang  teman yang berada pada fase ini, mengucapkan sebuah kata pada moment perpisahannya saat dia resign, tempat ini seperti harimau yang akan menelan saya, maka saya harus berlari. Saya tahu dia suka melakukannya, meski dengan alas an yang berbeda dia harus keluar. Saya hanya tersenyum ketika dia berkata begitu, karena saya pernah merasakannya. Satu hal yang mungkin saat itu tidak dia sadari adalah saya atau dia sedang kehilangan diri sehingga tidak ada  kebahagian. Mudah2an dia menemukan jalan di tempat berbeda.
Ketika berada pada tahap ini, kata Arvan Pradiansyah, dan menurut saya benar, situasi ini menghasilkan kesuksesan, tetapi kebahagiaan tidak berpihak kepada saya. Saya hanya pulang ke rumah dalam kelelahan yang luar biasa bahkan pekerjaan saya bawa pulang. Anak-anak tidak bisa menghampiri saya untuk bercengkerama. Suami sering komplain karena sampai di rumah hanya melihat istri yang kelelahan dan tidak fokus kepada anak. Bahkan dalam keadaan sakit atau cuti mau melahirkan sms dan dering telpun harus dilayani. Saya TIDAK BAHAGIA. Apakah anda juga demikian?
Sebagai solusinya, Arvan Pradiansyah menawarkan paradigma ketiga, yaitu melihat pekerjaan sebagai calling (panggilan). Pada mulanya kita berpikir bahwa yang dicari dan harus ditemukan dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Sebagai manusia beragama yang percaya kepada kekuasaan Allah (=Tuhan) maka kebahagiaan kita adalah sesuatu yang sudah ditentukan atas diri kita oleh-Nya. Maka kita tidak sedang menjalankan scenario kita. Kita sesungguhnya harus menjalani skenario Allah. Disinilah kata kunci bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini dengan sebuah maksud tertentu. Hal ini merupakan misi hidup dan alas an kita dilahirkan ke dunia ini. Saya, lagi-lagi setuju dengan Arvan bahwa tidak ada cara lain yang lebih baik untuk membuat kita selalu bersemangat dalam bekerja kecuali kita melihat pekerjaan/belajar sebagai sebuah panggilan hidup (calling).
Bekerja/belajar hanya sebagai upaya menyenangkan orangtua atau menyenangkan bos, nilai pekerjaan/belajar yang kita lakukan berada di luar diri kita. Karena yang kita inginkan adalah prestasi, uang atau kesenagan orangtua. Tidak ada yang salah dengan ini. Namun, bayangkan jika kita melihat bahwa belajar/ pekerjaan adalah diri kita. Pekerjaan / belajar adalah identitas diri kita. Maka ibadah tersebut benar-benar lahir dari dalam kesadaran diri. Mungkin inilah yang disebut ibadah yang ikhlas.
Demikianlah saya memaknai ajakan Arvan Pradiansyah.
Bagi para siswa yang mesti back to school, Saya ingin berpesan: mari kita melihat sekolah sebagai sebuah tempat bagi anda untuk belajar memenuhi anda sebagai manusia seutuhnya pada saatnya nanti.


Berdasarkan  catatan yang pernah di upload di Kompasiana pada 6 Januari 2013
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html