Mengenang Masa Indah dengan kelas yang paling heboh sepanjang sejarah mengajarku
http://www.smuha-yog.sch.id/cetak.php?id=107
Rohma Nazilah
Senin, 11 November 2013
Senin, 29 April 2013
Wajib Belajar 9 Tahun, Sudahkah Dinikmati Orang Miskin?
Kisah ini benar-benar terjadi
tidak dikarang-karang
Suatu
hari pada awal tahun ajaran baru lalu, seorang teman yang akan
memasukkan anaknya ke sebuah SMP Negeri terkenal di Yogyakarta
bertandang ke rumah dan menyampaikan ketakutannya bahwa anaknya yang
secara normatif mendapatkan hak menjadi siswa di sekolah tersebut
terancam bakal tidak dapat mengenyam pendidikan. Selepas Yogyakarta
disembur awan panas, sang bapak ini harus memulai merintis bisnisnya
dari awal lagi sehingga untuk menyediakan sejumlah uang ‘sumbangan
gedung’ sama sekali belum mampu dia pikirkan.
Mendengar
curhatnya tersebut, saya sampaikan bahwa program wajib belajar 9 tahun
berarti pemerintah menanggung biaya belajar setiap warga negara
Indonesia melalui sekolah-sekolah negeri. Dengan demikian, sekolah SD
dan SMP negeri tidak diperkenan memberikan beban uang apapun khusunya
bagi masyarakat tidak mampu. Dengan sedikit keras saya memberikan
kekuatan kepada kawan ini bahwa masyarakat dapat menuntut pemerintah
melalui sekolah-sekolah negeri ini jika sampai anak dari masyarakat kurang mampu ini tidak bisa bersekolah gara-gara tidak mampu membayar uang sumbangan.
Akhirnya
datanglah kawan ini beberapa hari setelah itu dengan senyum cerahnya
dan bilang terima kasih karena anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut
tanpa membayar sesenpun.
Kisah
ini pada jeda waktu yang sama sebenarnya tidak hanya dialami oleh
kawan saya ini, karena kawan lain juga mengalami hal yang sama dan
cerita bahwa banyak tetangga desanya menarik anaknya dari
sekolah-sekolah SMP yang berstatus negeri karena tidak mampu membayar
uang seragam atau uang sumbangan lain.
Sungguh
bagi saya sebagai guru (pendidik), kisah ini sangat mengiris hati.
Mengapa logika wajib belajar 9 tahun (bahkan sekarang akan dinaikkan
menjadi wajar 12 tahun) yang belum secara detail dipahami masyarakat,
khususnya masyarakat kurang mampu, justru dimanfaatkan oleh sesama
pendidik yang dalam hal ini para panitia seleksi siswa baru (managemen
sekolah) untuk dibiarkan saja tidak dipahami sehingga
masyarakat tetap tidak mengerti dan menjadi korban kecurangan. Komite
sekolah secara tidak langsung terkadang memberi kontribusi untuk
memproduksi kebijakan yang kurang pro kepada kalangan
masyarakat miskin. Pihak sekolah akan menggunakan dalil keputusan atau
kesepakatan komite sekolah untuk menekan para orang tua siswa agar
mengeluarkan sekian juta biaya tahunan atau biaya pembangunan.
Bagi
masyarakat yang memahami hukum, maka mereka akan berani berargumentasi
dengan pihak sekolah supaya memberikan keringanan. Tetapi akan lain
masalahnya jika hal ini menimpa masyarakat petani miskin yang sama
sekali tidak mengerti apa itu wajib belajar 9 tahun.
Mereka hanya akan terdiam dan memilih memutuskan tidak menyekolahkan
anaknya daripada kebingungan untuk memikirkan bagaimana mencari uang
ratusan atau bahkan jutaan rupiah.
Fenomena ini sepertinya sesuai dengan data bahwa kemiskinan menjadi sebab utama angka putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Data-data
menunjukkan bahwa kenaikan anggaran pendidikan yang signifikan
ternyata tak berbanding lurus dengan upaya penghentian siswa putus
sekolah. Tanpa mengurangi penghargaan saya kepada jajaran pemangku
kebijakan khususnya di Kemendiknas yang telah merancang dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) yang jumlahnya cukup besar (Rp 200 ribu/bulan
per siswa) bagi siswa kurang mampu (pemegang KMS), namun
diperlukan sosialisasi yang mengakar yang bisa dilakukan hingga
pedesaan bahkan sampai pedukuhan sehingga hal-hal seperti ini tidak
lagi terjadi di masyarakat kita.
Meskipun
juga tidak semua sekolah dan semua pendidik melakukan distorsi
informasi kepada masyarakat, namun tindakan demikian sangat disayangkan
dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi pihak yang mengayomi dan
melindungi generasi Indonesia dalam memperoleh hak pendidikan.
Melihat
fakta-fakta ini, pemerintah dalam hal ini Kemendiknas akan mendapat PR
yang semakin besar dengan direalisasikannya wajar 12 tahun. Maka untuk
menyelamatkan generasi Indonesia dari terlanggarnya hak memperoleh
pendidikan maka peran kita sebagai masyarakat sangat diperlukan untuk
menyebarluaskan informasi yang akan membantu masyarakat untuk
memperoleh haknya sebagai warga negara.
Diupload pada:
http://edukasi.kompasiana.com/2011/12/31/wajib-belajar-9-tahun-sudahkah-dinikmati-orang-miskin-426901.html
Belajar Memberi Dukungan
Menjadi seorang pendidik tidak selalu menyenangkan,
apalagi jika menemui siswa yang bermasalah. Namun akan lain rasanya jika kita
mengetahui siswa yang dulu ‘bermasalah’ ternyata berhasil melampauinya
dengan baik dan berhasil.
Sebut saja namanya Arimbi. Tiba-tiba seseorang menitipkan
pesan ada bingkisan untuk saya. Setelah dibuka ternyata kado dari Arimbi.
Saya jadi teringat kelas beberapa tahun yang lalu dimana saya menjadi wali
kelasnya. Ketika diumumkan saya menjadi wali kelas tersebut, para guru
tersenyum dan beberapa berkomentar “wah, dapat kelas yang hebat”. Semua
sudah tahu bahwa kelas ini memang selalu muncul masalah dari tahun ke
tahun. Meskipun kelas diisi oleh siswa yang berbeda.
Meskipun bukan kali pertama menjadi wali kelas di kelas kategori
susah, namun perlu disiapkan strategi untuk mengantar kelas tersebut agar para
siswanya tidak menghadapi masalah, khususnya akademik dan non akademik yang akan
menjadi penghalang pada saat kenaikan kelas. Beberapa kasus non akademik
yang berpotensi menjadi penghalang siswa untuk tidak naik kelas adalah
kedisiplinan misalnya sering bolos atau kekerasan misalnya perkelahian atau
tawuran.
Antisipasi untuk potensi
kenakalan yang mengarah pada kekerasan (perkelahian dan tawuran) sudah berhasil
diantisipasi karena sepanjang satu tahun kita lewati, tidak satupun kasus
kekerasan muncul dari kelas ini. Namun justru mulai muncul masalah yang
bersifat individu. Ada beberapa kasus, salah satunya datang dari
Arimbi. Siswi pendiam dan belum pernah bermasalah, tiba-tiba tidak
mau masuk sekolah. Saya pikir hanya masalah kecil sampai orang tuanya menelpun
meminta bertemu dengan wali kelas dan wali BK.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.
Saya berdiskusi dengan guru BK-nya dan kami meneliti penyebabnya
dengan mencari informasi melalui teman, guru, dan orang tuanya. Rupanya kami
berhasil membuat kesimpulan sementara bahwa masalah yang menyebabkan Arimbi
tidak mau masuk kelas adalah jika ada tugas yang harus dilakukan dengan
berkelompok.
Arimbi anak yang
pendiam dan hanya punya satu teman, yaitu Dina, teman sebangkunya. Setelah
dilakukan pengamatan disimpulkan memang Arimbi tidak pandai berteman. Meski dia
tidak pernah membuat masalah, saya sebenarnya sudah agak khawatir dengan
sikapnya yang terlalu pendiam. Semula saya menduga, Arimbi minder. Saya
mendorong teman-temannya untuk mau mengajaknya berkomunikasi dan bermain
bersama. Saya sendiri mendorong dia untuk mau berteman dengan bertanya dan
mendorong supaya dia ke kantin bersama temannya.
Sampai akhirnya saya melihat masalah ini manjadi serius ketika
orantuanya menginformasikan bahwa putri mereka tidak mau bangun dan keluar dari
kamarnya serta mengatakan tidak mau sekolah. Dia meminta untuk homeschooling.
Wah, ini menjadi sangat serius. Saya merasa saya tidak boleh membiarkan ini
sampai saya tahu masalah sebenarnya.
Langkah pertama yang
saya ambil adalah mencoba membuka dialog dengan Arimbi dan membujuknya kembali
ke sekolah dan kedua menyiapkan kondisi sosial yang mendukung dia di
kelasnya setelah saya berhasil membujuknya kembali ke kelas.
Saya yakin bahwa membujuk Arimbi untuk kembali ke kelas, mungkin
bisa dilakukan dengan tidak terlalu sulit. Tetapi membuat dia untuk tetap
bertahan berada pada lingkungan kelas adalah hal yang tidak mungkin
dilakukan tanpa kerjasama dan dukungan teman-temannya. Arimbi akhinya kembali
dengan bantuan seorang teman psikolog yang mengembalikan dia ke sekolah tanpa
harus memilih home school.
Inilah bagian tersulitnya. Membuat teman-teman di kelas
menerimanya dan mau menjadi temannya. Memang pada awalnya sekelompok anak tidak
melihat kepentingan mereka harus memberi dukungan pada Arimbi. Bagi mereka,
tidak ada untungnya mereka harus menjadi orang yang harus memahami. Meskipun
sebagian lagi telah menyatakan dukungannya. Sebagian lagi mau mendukung tetapi
menyerah karena masalah psikologis Arimbi memang juga membuat mereka merasa dia
tidak mau bekerja sama.
Pada akhirnya kelas ini menjadi solid ketika diajak berkunjung
ke sebuah panti penyandang cacat. Saya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di
dunia ini yang dapat memilih harus dilahirkan oleh orang tua yang mapan, dengan
kondisi tubuh yang normal dan diberi otak yang cerdas. Maka sebagai anak yang
dilahirkan normal, sehat jasmani/rokhani dan orangtua yang cukup mapan,
maka tugas kita adalah tidak merendahkan dan memberi dukungan kepada mereka
yang dilahirkan tidak sempurna seperti kita. Dengan sedikit shock terapi ini
mereka menjadi sadar dan menerima keadaan Arimbi yang jauh lebih memungkinkan
mereka dukung dibanding dengan para penyandang cacat yang bahkan tidak punya
kaki dan tangan.
Mendukung Arimbi akhirnya terasa lebih mungkin dan lebih mudah
mereka lakukan. Berteman dengan Arimbi akhirnya menjadi hal sederhana yang akan
membuat mereka menjadi anak yang ‘berarti’. Menjadi remaja yang ‘baik’
dan tidak ‘bandel’ menjadi hal yang layak mereka pilih.
Akhirnya, tidak
satupun siswa di kelas yang berpotensi masalah ini tinggal kelas. Semua
naik kelas dengan bantuan dan dukungan teman. Dan mereka belajar bagaimana cara
memberi dukungan.
aseperti dimuat pada:
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=754
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/05/belajar-memberi-dukungan-483370.html
KADO ULTAH
Ketika
kegelisahan menyergap sangat, Hanya coretan kegalauan yang tersisa
Mudah-mudahan
ini menjadi obat galau, betapa tidak mudah menjaga sebuah visi yang besar
Dan
sudah terlanjur besaryang namanya …. M-u-h-a-m-m-a-d-i-y-a-h
Kira-kira 62 tahun
yang lalu, tepatnya tanggal 2 Oktober 1950 di sebuah rumah milik Bapak H. Sarbini, berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang
akhirnya diberi nama SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lahirnya sekolah ini
berangkat dari sebuah ketulusan dan kecintaan terhadap Muhammadiyah dan dunia
pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa SMA Muhammadiyah 2
dibangun dari keprihatinan, kesederhanaan, keikhlasan dan kecintaan. Para
pendiri bermaksud untuk memberi wadah pendidikan bagi warga Muhammadiyah pada
khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang saat itu memerlukan wadah
lebih besar setelah SMA Muhammadiyah 1
Yogyakarta tidak lagi mampu menampung animo masyarakat.
Ditilik dari tahun
berdirinya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta lahir tidak lama setelah kemerdekaan
Republik Indonesia. Kekuasaan kolonial telah melahirkan stratifikasi atau
kelompok masyarakat: penduduk pribumi pada lapisan terendah, penduduk Eropa
menduduki kelompok atas dan penduduk Timur Asing seperti orang Cina, Jepang,
Arab dan India. Penguasa kolonial tentu saja akan membatasi sesempit-sempitnya
bagi kelompok pribumi untuk mendapatkan akses pendidikan demi kepentingan
kolonialnya. Meskipun pada tahun 1950 Indonesia secara definitif sudah
menyatakan merdeka, tetapi secara politis keadaan negara Indonesia masa itu
belum aman dan bebas. Hal inilah yang membuat pendirian lembaga pendidikan yang
lahir dari inisiatif pribumi akan menjadi sangat strategis.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.
Semangat KH. A. Dahlan
tersebut diimplikasikan antara lain dalam pembangunan dunia pendidikan di tanah
air. Apa yang dilakukan KH. A. Dahlan lewat Muhammadiyah melalui kiprah dakwah
dan amal usahanya semuanya di khikmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan
universal.
Di tengah gegap
gempita rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memeriahkan hari lahirnya,
tulisan ini diharapkan dapat melihat lebih jauh siapa dan
apa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, dari mana asalnya dan apa arah didirikannya.
Mudah-mudahan renungan ini mampu menjadi penghibur sekaligus kado bagi para
pendiri sehingga mereka tidak boleh pernah menyesal telah mendirikan sekolah
ini.
Pada pendahuluan tulisan ini, dapat digambarkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari persyarikatan Muhammadiyah sehingga derapnya tidak terlepas dari tujuan Muhammadiyah. Dalam maklumat PP Muhammadiyah tentang tuntunan penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke-102 ditegaskan bahwa peringatan Milad yang diselenggarakan baik oleh Pimpinan Ortom dari Wilayah hingga Ranting maupun AUM, didasarkan pada rasa keprihatinan terhadap persoalan bangsa sehingga tema yang diangkat adalah “Muhammadiyah Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa”.
Potret SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta saat ini dapat digambarkan dari sisi pencapaian yang berupa prestasi-prestasi yang sudah diraihnya. Sejak mendapat penetapan dari Direktorat Pendidikan DEPDIKNAS sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SMA RSBI), sekolah ini telah mendapat capaian positif, sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik dapat dituangkan dalam berlembar-lembar kertas. Kunjungan-kunjungan dari sekolah atau lembaga domestik maupun dari luar negeri cukup memperlihatkan bahwa sekolah kita adalah sekolah yang dipandang baik.
Semua capaian ini
tidak akan hanya menjadi upaya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menjaga
eksistensinya dari dunia modern yang penuh dengan sifat kompetitif. Tidak ada
yang salah dengan langkah-langkah pemertahanan diri. Namun hal ini tidak dapat
dibiarkan karena semakin lama perjalanan AUM ini akan sekedar berupaya memenuhi
kebutuhan publik modern an sich. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka apa yang dicita-citakan oleh para pendiri AUM tidak
akan ada bedanya dengan pendirian perusahaan yang hanya berujung pada masalah
profit belaka. KH. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah hanya ditujukan dan
dikhidmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal. Ditengah tekanan kolonialisme, gagasan mendirikan sekolah-sekolah untuk
mencerdaskan bangsa tidak mungkin
dilakukan sekedar jika hanya berpikir apakah lembaga pendidikan ini akan
mendatangkan keuntungan?
Orientasi
sekolah-sekolah kini adalah bagaimana tetap bertahan hidup, bukan mencari apa
yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengembalikan martabatnya dari
persoalan-persoalan kebangsaan, lalu bagaimana melahirkan generasi masa depan
yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini. Maka tema yang diangkat
oleh PP Muhammadiyah dalam memperingati Milad yaitu Membangun Karakter Utama
Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa sangatlah tepat untuk digali oleh aktivis
penggerak organisasi, simpatisan maupun seluruh warga Persyarikatan untuk menyongsong masa depan.
Muhammadiyah, baik
langsung maupun tidak, semestinya turut bertanggung jawab terhadap persoalan
kebangsaan. Persoalan bangsa ini adalah persoalan Muhammadiyah. Dan persoalan
Muhammadiyah berarti juga menjadi tanggungjawab AUM khususnya yang bergerak di
level akar rumput (grassroot) dan di bidang pencetak generasi. Maka AUM di
bidang pendidikan akan menjadi ujung tombak bagi upaya menjawab
persoalan bangsa.
Tema “Membangun
Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa” sebenarnya sebuah ironi
dalam lembaga pendidikan. Pendidikan semestinya diselenggarakan untuk merubah
perilaku. Ketika visi ini tidak lagi menjadi fokus, maka
penyelenggaraan pendidikan hanya akan ditelan oleh tuntutan material peradaban
modern. Seorang guru ekonomi hanya
akan mengingatkan siswanya bagaimana prinsip-prinsip ekonomi menurut para tokoh
ekonomi, tetapi lupa memberi tekanan apa manfaat belajar prinsip-prinsip
ekonomi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan yang manusiawi. Siswa hanya
mengingat, menghapal dan menganalisa aktifitas ekonomi modern yang didominasi
oleh teori-teori yang lahir dari barat, tetapi tidak mampu berempati terhadap
sistem perekonomian kerakyatan.
Mengapa visi
pendidikan ini tidak lagi hidup di benak para pendidik maupun pengambil
kebijakan? Visi pendidikan yang merupakan harapan dari para pendiri sekolah
kita untuk mencetak generasi kuat, diselewengkan sekedar tempat yang menjadi tumpuan untuk memenuhi
kebutuhan fisik semata. Tempat ini sekarang seolah hanya mesin peradaban modern
tanpa mengenal jati diri. Jika standar RSBI atau ISO menjadi tuntutan dunia
pendidikan modern, maka ikutlah kita, sehingga kita akan menjadi bagian dari
kehidupan modern tersebut. Kita lupa bahwa kepentingan hakiki dari pendidikan adalah menciptakan generasi hidup yang
tangguh menghadapi kepalsuan dan kemayaan. Pendidikan seharusnya menggali dan
menegakkan diri meskipun berada pada ruang dan waktu yang berbeda.
Jika pendirian SMA
Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada masanya adalah untuk memenuhi tuntutan dan
kebutuhan bangsa saat itu, melahirkan generasi yang berkepribadian tangguh
dalam menghadapi kolonialisasi, maka seharusnya SMA Muhammadiyah 2 hari ini,
pada ulang tahunnya yang ke-62 merevitalisasi dirinya pada sebuah redefinisi apa
sebenarnya kebutuhan bangsa ini sekarang dan ke depan.
Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini membuka sedikit simpul kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.
Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini membuka sedikit simpul kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.
Yogyakarta,, 1 oktober 2012
Catatan dini hari menjelang Milad ke-62
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Dimuat
pada
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=773
Jumat, 26 April 2013
Terkabulnya cita-cita kuliah di luar negeri
Akhirnya terkabul juga cita-cita Fatia Magistra
yang "keukeh" hanya akan melanjutkan studi di manca negara, di negara
yang sistem pendidikannya memungkinkan bagi siswa/mahasiswanya berkembang
(demikian keyakinan Fatia, putri dari Ibu Trias Setiawati). Semoga hari ini
menjadi awalan yang baik. Dan saya yakin 'somehow' dia akan bisa mewujudkannya
dengan "sangat sabar".
Ok, fatia, selamat ya. You deserved!!!! Goodluck.
Ok, fatia, selamat ya. You deserved!!!! Goodluck.
Fatia Magistra adalah siswa (alumni) SMA Muhammadiyah
2 Yogyakarta yang tulisannya dimuat pada web 1000guru. Dia juga sangat aktif
mengikuti kegiatan teleconference (angkatan tahun pertama) di sekolah dan salah
satu siswa yang sangat berbakat.
Kepada siapapun yang pernah menjadi nara sumber
di SMA Muhammadiyah 2, Mas Ali Imron, J. Murphy, pak Teguh Dartanto, pak Agung dan banyak lagi yang tidak dapat
disebut namanya, terima kasih telah memberi inspirasi kepada anak2 ini,.....
Selain Fatia masih banyak siswa angkatan
tersebut yang berhasil meraih impiannya masuk dalam perguruan tinggi yang
mereka inginkan:
Rizky Fariz,Tubagus, saras (UGM), Alan Adityo (Telkom), Saras (UGM), dan masih banyak yang lainnya
sekali lagi 1000guru.net dengan para relawannya telah sangat berkontribusi kepada pendidikan Indonesia.
Rizky Fariz,Tubagus, saras (UGM), Alan Adityo (Telkom), Saras (UGM), dan masih banyak yang lainnya
sekali lagi 1000guru.net dengan para relawannya telah sangat berkontribusi kepada pendidikan Indonesia.
Bravo....
http://www.1000guru.net/baru/component/content/article/43-lain-lain/93-terkabulnya-cita-cita-kuliah-di-luar-negeri
Sekolah Telah Tiba: I Love Back to School
Jika
ada lagu berjudul ‘Libur Telah Tiba’, maka slogan ‘Sekolah Telah Tiba”,
rasanya lebih cocok untuk keadaan saat ini. Dua minggu lebih para siswa
sudah libur, kecuali siswa kelas XII yang harus menambah pendalaman
materi selama beberapa hari untuk mempersiapkan Ujian Nasional di waktu
dekat nanti.
Mungkin banyak dari kita yang berseloroh ‘wah, liburnya sudah habis’, atau ‘selamat datang tugas-tugas dan kesibukan yang banyak dan menggunung’. Selorohan ini adalah hal yang jamak terjadi. Fenomena
dimana banyak dari kita yang merasa ‘tidak suka kembali kepada
pekerjaan kita’ bisa di-analog-kan dengan istilah yang nge-trend dengan “I hate Monday”.
Istilah ini sangat popular di kalangan pekerja. Saya-pun jika sudah
terlalu padat jadwalnya akan berpikir jumat sore adalah hari yang
sungguh melegakan karena akan dapat libur sabtu dan minggu. Tetapi
keesokannya pada minggu sore akan bilang “I hate Monday”.
Namun, beberapa hari lalu, paman sekaligus teman dialog kami datang membawa buku Arvan Pradiansyah, seorang Happier Inspirer, berjudul “I Love Monday”.
Yang menarik dari buku tersebut adalah penulisnya membalik 180 derajat paradigma “I Hate Monday” menjadi “I love Monday”. Kata “hate’ yang berarti membenci di-antonim-kan dengan kata “love” yang berarti mencintai.
Mengapa kita harus berkata “ I love Monday” atau “I Hate Monday”? Monday adalah
simbol mulainya kita bekerja. Isyarat bahwa dalam kalender mingguan
kita, hari dimulai Senin berakhir dengan Minggu. Maka ketika kita
memasuki hari Senin (Monday),
kita selalu membayangkan hari-hari yang penuh dengan kesibukan dengan
pekerjaan, tugas sekolah dan lainnya. Bagaimana supaya kita bisa
menikmati hari memulai semua kesibukan tersebut?
Arvan Pradiansyah dalam bukunya mengajak pembacanya pada satu titik bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini.
Mengapa kita harus bekerja atau belajar? Arvan membagi tiga paradigma.
Pertama, ketika kita melihat pekerjaan (=baca bersekolah atau belajar) hanya sebagai Job. Jika anda sebagai pekerja
maka alasan anda bekerja adalah karena ingin mendapatkan uang. Jika
anda murid, maka motivasi anda bersekolah adalah untuk mendapatkan nilai
bagus atau bahkan hanya karena memang harus ke sekolah. Soalnya semua
anak harus pergi ke sekolah. Maka, bekerja atau bersekolah akhirnya
hanya menjadi kewajiban, bukan sebuah pilihan. Bekerja dan belajar menjadi sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang kita senangi. Maka PR, ulangan, mencatat, menyimak dan menghapal bagi para siswa hanya akan menjadi aktifitas
yang menyiksa. Aktifitas yang harus segera diselesaikan bagi para
pekerja adalah ‘mengingat bos sudah men-deadline pekerjaan kita’. Atau guru kita sudah menunggu tugas kita.
Kata Arvan Pradiansyah, kita sedang melakukan skenario orang lain. Para
pekerja menyelesaikan tugas dari bos-nya dan para siswa belajar karena
dituntut oleh gurunya. Celakalah bagi pekerja yang hanya sekedar
melakukan pekerjaan bagi kesenangan dan kepuasan bos-nya. Apalagi jika bos-nya tidak kompeten. Ketika bos- kita tidak suka lagi, dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak kita duga. Bahkan, sepandai dan sebagus apapun kita bekerja, dia akan tetap berkata I don’t like you, so I don’t need you. Bagi
para siswa, tugas yang dikerjakan dengan maksud untuk memenuhi
kewajiban, maka dia akan stress jika kurang paham bagaimana cara
mengerjakannya. Maka yang terjadi bahkan menjurus ke kegiatan yang tidak
jujur, misalnya mencontek PR teman dan membuka catatan ketika ujian
atau ulangan. Maka menurut saya, kita sedang melakukan hal yang
berbahaya dan justru merugikan kita.
Paradigm kedua adalah melihat pekerjaan sebagai karir. Lumayan
bagus pada tahap ini, karena pekerja memainkan peran sutradara. Pekerja
menyusun rencana besar. Setelah saya melakukan ini, saya akan menduduki
posisi A, lalu setelah itu posisi B akan dapat diraih dan seterusnya.
Bagi para siswa, belajar akan mengantar anda meraih cita-cita, masa
depan anda. Kata Arvan Pradiansyah hal ini membuat kita bersemangat dan
ini merupakan rumus kesuksesan.
Beberapa
tahun lalu saya berada pada tahap ini. Setiap saya merencanakan program
A saya akan menduduki posisi A, dan pada program B, saya akan menduduki
posisi B. Apa yang terjadi
pada kita? Kita menjadi sebuah mesin. Kita menikmati penghargaan nominal
dari apa yang sudah dilaukan. Bahkan kita dapat pujian dari yang kita
lakukan. Seorang teman yang berada pada fase ini, mengucapkan sebuah kata pada moment perpisahannya saat dia resign, tempat ini seperti harimau yang akan menelan saya, maka saya harus berlari. Saya
tahu dia suka melakukannya, meski dengan alas an yang berbeda dia harus
keluar. Saya hanya tersenyum ketika dia berkata begitu, karena saya
pernah merasakannya. Satu hal yang mungkin saat itu tidak dia sadari
adalah saya atau dia sedang kehilangan diri sehingga tidak ada
kebahagian. Mudah2an dia menemukan jalan di tempat berbeda.
Ketika berada pada tahap ini, kata Arvan Pradiansyah, dan menurut saya benar, situasi ini menghasilkan kesuksesan, tetapi kebahagiaan
tidak berpihak kepada saya. Saya hanya pulang ke rumah dalam kelelahan
yang luar biasa bahkan pekerjaan saya bawa pulang. Anak-anak tidak bisa
menghampiri saya untuk bercengkerama. Suami sering komplain karena
sampai di rumah hanya melihat istri yang kelelahan dan tidak fokus
kepada anak. Bahkan dalam keadaan sakit atau cuti mau melahirkan sms dan
dering telpun harus dilayani. Saya TIDAK BAHAGIA. Apakah anda juga
demikian?
Sebagai solusinya, Arvan Pradiansyah menawarkan paradigma ketiga, yaitu melihat pekerjaan sebagai calling (panggilan). Pada mulanya kita berpikir bahwa yang dicari dan harus ditemukan dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Sebagai manusia beragama yang percaya kepada kekuasaan Allah (=Tuhan) maka
kebahagiaan kita adalah sesuatu yang sudah ditentukan atas diri kita
oleh-Nya. Maka kita tidak sedang menjalankan scenario kita. Kita
sesungguhnya harus menjalani skenario Allah. Disinilah kata kunci bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini dengan sebuah maksud tertentu. Hal
ini merupakan misi hidup dan alas an kita dilahirkan ke dunia ini.
Saya, lagi-lagi setuju dengan Arvan bahwa tidak ada cara lain yang lebih
baik untuk membuat kita selalu bersemangat dalam bekerja kecuali kita
melihat pekerjaan/belajar sebagai sebuah panggilan hidup (calling).
Bekerja/belajar hanya sebagai upaya menyenangkan orangtua atau menyenangkan bos, nilai pekerjaan/belajar yang
kita lakukan berada di luar diri kita. Karena yang kita inginkan adalah
prestasi, uang atau kesenagan orangtua. Tidak ada yang salah dengan
ini. Namun, bayangkan jika kita melihat bahwa belajar/ pekerjaan adalah diri kita. Pekerjaan
/ belajar adalah identitas diri kita. Maka ibadah tersebut benar-benar
lahir dari dalam kesadaran diri. Mungkin inilah yang disebut ibadah yang ikhlas.
Demikianlah saya memaknai ajakan Arvan Pradiansyah.
Bagi para siswa yang mesti back to school, Saya ingin berpesan: mari
kita melihat sekolah sebagai sebuah tempat bagi anda untuk belajar
memenuhi anda sebagai manusia seutuhnya pada saatnya nanti.
Berdasarkan catatan yang pernah di upload di Kompasiana pada 6 Januari 2013
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html
Langganan:
Postingan (Atom)







