Sebuah
keberhasilan dimulai dari hal kecil…….
Kadangkala,sebagai guru,
kita mudah marah dengan murid yang agresif, tidak penurut, ngeyel dan
malas. Percayalah bahwa hal ini karena kita belum belajar mengenal
mengapa aksi ‘tidak mengenakkan’ ini dilakukan anak/remaja.
Seringkali
saya merasa jengkel jika menemui situasi demikian. Yang saya pikirkan
adalah bagaimana memberikan hukuman yang memberikan efek jera yang
berdampak positif. Artinya endingnya, mereka mengerti apa yang saya
maksudkan dengan ‘hukuman’ yang saya berikan.
Hukuman
(punishment) adalah suatu tindakan yang harus membuat si terhukum
memahami, mengerti dan menerima dangan kesadaran pribadi. Jika hukuman
diberikan dengan rasa ‘marah’ oleh yang memberi hukuman, maka yang
menerima juga akan terkena rasa marahnya. Maka mulailah saya berpikir
untuk memberikan cara agar siswa memiliki efek jera.
Sebut saja
namanya Raga, siswa tidak naik kelas karena ketidakdisiplinan. Sering
bolos, tidak mengikuti pelajaran, tidak membawa buku saat belajar, tidak
mau mengerjakan PR yang diberikan dan beberapa kenakalan yang agak
serius seperti tawuran atau tindakan kekerasan sesama pelajar. Secara
fisik, Raga memiliki penampilan yang cukup menyenangkan, tidak terlalu
tinggi tapi mukanya bersih.Saya tidak habis pikir kenapa anak dengan
penampilan cukup ‘polos’ dapat memiliki kebiasaan yang demikian. Saya
pikir seandainya dia harus berperan dalam sebuah drama/sinetron mungkin
sutradara akan memberikan karakter protagonis.
Suatu hari dengan
hati jengkel, saya bertanya kepadanya mengapa dia tidak membawa buku
paket. Pertanyaan ini untuk memberikan saya data (informasi) sehingga
saya akan dapat memberikan perlakuan yang proporsional. Saya merasa,
penting bagi saya mengetahui sudut pandang dia. Saya paling takut
memberi hukuman yang tergesa-gesa tanpa bertanya masalah yang dihadapi
si anak.
Ternyata dia menjawab,‘bukunya dipinjam kakak kelas’.
‘lho, kenapa kamu pinjamkan? Kan kamu juga memerlukannya?’
Saya
tidak habis pikir dengan jawaban yang begitu entengnya.Dan saya lebih
surprise dengan jawaban selanjutnya, ‘temen saya perlu buku kelas XI
karena dia sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional, -siswa kelasXII
perlu mengulang pelajaran 2 tahun sebelumnya."
Sya terhenyak.
Saya pikir, Raga memiliki hati yang baik. Dia lebih mementingkan
kepentingan temannya di atas kepentingan dirinya.Lalu saya tanya,
‘berarti kamu juga tidak belajar semalam?’.
Dari situ sayamulai
menyadari bahwa saya perlu mengajarkan kepada Raga sebuah kebiasaan
sederhana yang seharusnya dilakukan seorang pelajar.
Saya
umumkan di kelas bahwa saya akan memberi tugas yang berbeda kepada Raga.
Jika siswa lain memdapatkan tugas rumah mengerjakan latihan, maka tugas
untuk Raga adalah: menyiapkan buku pelajaran menjelang tidur dan harus
menunjukkannya pada saat ada pelajaran saya.
Saya menjelaskan
kepada siswa di kelas agar mereka tidak ‘iri’ kepada Raga, tetapi justru
‘membantu dan mendorong’ Raga agar dapat melakukan tugas ‘sederhana’
ini.
Saya katakan bahwa mereka lebih beruntung dibanding Raga
karena mereka lebih cepat memahami bahwa menjadi seorang pelajar
memiliki kewajiban dan tugas agar mereka berhasil menyelesaikan
studinya.
Mereka akhirnya menjadi ‘saksi’ untuk tugas Raga dan
mereka akan mengingatkan Raga untuk membawa tugas-nya pada pertemuan
selanjutnya.Meskipun Raga tidak menyiapkan buku yang ditugaskan untuk
dibawa pada malam hari karena dia menyiapkannya pada pagi hari menjelang
berangkat sekolah, namun secara perlahan Raga menunjukkan perubahan
yang positif.
Raga belajar sebuah nilai: bahwa untuk melakukan
perubahan yang kecil dia harus melakukan tindakan-tindakan kecil yang
sederhana. Tentu saja, menyiapkan buku pelajaran pada malam hari tanpa
perlu membaca dan mengerjakan PR adalah tugas yang sangat sederhana.
Meskipun
sangat sederhana, tugas ini menentukan cara pandang dia terhadap niat
dia dalam studi. Mungkin selama ini dia sedang melawan keadaan sulit,
misalnya dari keluarga, lingkungan atau temanyang memberikan dia label
‘anak gaul alias anak nakal’.
Lebih mudah bagi anak/remaja yang
sudah masuk dalam sebuah lingkungan tertentu (baca=negatif) untuk
menyesuaikan diri dengan temannya dibanding dia harus menyandang
predikat siswa ‘baik dan penurut’. Ketika dia memilih menjalankan tugas
sebagai siswa ‘baik’, lingkungan dia akan menjauh darinya, kecuali bila
dia memiliki cara tertentu untuk tetap bertahan dalam lingkungan awalnya
namun tetap melanjutkan langkahnya sebagai saswa ‘baik’.
Siswa
dengan kondisi demikian memerlukan dukungan. Dukungan dapat dilakukan
secara relax dan kontinyu. Tidak harus dilakukan dengan ketat.
Namun
perlulah sesekali sambil mengobrol ringan disapa dan ditanyakan
keadaannya, teman-temannnya dan hubungannya dengan para guru.
Cara
ini sederhana namun akan memberi efek positif baginya untuk selalu
memikirkan ulang langkah-langkah dia kedepan.
Paling tidak, dia
akan berpikir bahwa dia masih memiliki harapan dan kesempatan.
Disamping
itu dia juga memiliki teman dan dukungan.
Anda tahu, sejak itu
tidak ada lagi kasus muncul dari seorang Raga dan dia lulus tepat waktu
dengan tanpa masalah. Semuanya berawal dari sebuah tugas sederhana:
menyiapkan buku pada malam hari.
Yogyakarta, 15 Desember 2011

hands
holding the sun at dawn
hal yang kecil awal suatu keberhasilan yang besar... saya sedang coba yakinkan itu pada diri saya sekarang!!!
BalasHapussya suka cara ibu merubah Rega... jenius
salam kenal pencari ilmu selamanya,
Hapussemoga anda berhasil mencobanya