Menjadi seorang pendidik tidak selalu menyenangkan,
apalagi jika menemui siswa yang bermasalah. Namun akan lain rasanya jika kita
mengetahui siswa yang dulu ‘bermasalah’ ternyata berhasil melampauinya
dengan baik dan berhasil.
Sebut saja namanya Arimbi. Tiba-tiba seseorang menitipkan
pesan ada bingkisan untuk saya. Setelah dibuka ternyata kado dari Arimbi.
Saya jadi teringat kelas beberapa tahun yang lalu dimana saya menjadi wali
kelasnya. Ketika diumumkan saya menjadi wali kelas tersebut, para guru
tersenyum dan beberapa berkomentar “wah, dapat kelas yang hebat”. Semua
sudah tahu bahwa kelas ini memang selalu muncul masalah dari tahun ke
tahun. Meskipun kelas diisi oleh siswa yang berbeda.
Meskipun bukan kali pertama menjadi wali kelas di kelas kategori
susah, namun perlu disiapkan strategi untuk mengantar kelas tersebut agar para
siswanya tidak menghadapi masalah, khususnya akademik dan non akademik yang akan
menjadi penghalang pada saat kenaikan kelas. Beberapa kasus non akademik
yang berpotensi menjadi penghalang siswa untuk tidak naik kelas adalah
kedisiplinan misalnya sering bolos atau kekerasan misalnya perkelahian atau
tawuran.
Antisipasi untuk potensi
kenakalan yang mengarah pada kekerasan (perkelahian dan tawuran) sudah berhasil
diantisipasi karena sepanjang satu tahun kita lewati, tidak satupun kasus
kekerasan muncul dari kelas ini. Namun justru mulai muncul masalah yang
bersifat individu. Ada beberapa kasus, salah satunya datang dari
Arimbi. Siswi pendiam dan belum pernah bermasalah, tiba-tiba tidak
mau masuk sekolah. Saya pikir hanya masalah kecil sampai orang tuanya menelpun
meminta bertemu dengan wali kelas dan wali BK.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.
Saya berdiskusi dengan guru BK-nya dan kami meneliti penyebabnya
dengan mencari informasi melalui teman, guru, dan orang tuanya. Rupanya kami
berhasil membuat kesimpulan sementara bahwa masalah yang menyebabkan Arimbi
tidak mau masuk kelas adalah jika ada tugas yang harus dilakukan dengan
berkelompok.
Arimbi anak yang
pendiam dan hanya punya satu teman, yaitu Dina, teman sebangkunya. Setelah
dilakukan pengamatan disimpulkan memang Arimbi tidak pandai berteman. Meski dia
tidak pernah membuat masalah, saya sebenarnya sudah agak khawatir dengan
sikapnya yang terlalu pendiam. Semula saya menduga, Arimbi minder. Saya
mendorong teman-temannya untuk mau mengajaknya berkomunikasi dan bermain
bersama. Saya sendiri mendorong dia untuk mau berteman dengan bertanya dan
mendorong supaya dia ke kantin bersama temannya.
Sampai akhirnya saya melihat masalah ini manjadi serius ketika
orantuanya menginformasikan bahwa putri mereka tidak mau bangun dan keluar dari
kamarnya serta mengatakan tidak mau sekolah. Dia meminta untuk homeschooling.
Wah, ini menjadi sangat serius. Saya merasa saya tidak boleh membiarkan ini
sampai saya tahu masalah sebenarnya.
Langkah pertama yang
saya ambil adalah mencoba membuka dialog dengan Arimbi dan membujuknya kembali
ke sekolah dan kedua menyiapkan kondisi sosial yang mendukung dia di
kelasnya setelah saya berhasil membujuknya kembali ke kelas.
Saya yakin bahwa membujuk Arimbi untuk kembali ke kelas, mungkin
bisa dilakukan dengan tidak terlalu sulit. Tetapi membuat dia untuk tetap
bertahan berada pada lingkungan kelas adalah hal yang tidak mungkin
dilakukan tanpa kerjasama dan dukungan teman-temannya. Arimbi akhinya kembali
dengan bantuan seorang teman psikolog yang mengembalikan dia ke sekolah tanpa
harus memilih home school.
Inilah bagian tersulitnya. Membuat teman-teman di kelas
menerimanya dan mau menjadi temannya. Memang pada awalnya sekelompok anak tidak
melihat kepentingan mereka harus memberi dukungan pada Arimbi. Bagi mereka,
tidak ada untungnya mereka harus menjadi orang yang harus memahami. Meskipun
sebagian lagi telah menyatakan dukungannya. Sebagian lagi mau mendukung tetapi
menyerah karena masalah psikologis Arimbi memang juga membuat mereka merasa dia
tidak mau bekerja sama.
Pada akhirnya kelas ini menjadi solid ketika diajak berkunjung
ke sebuah panti penyandang cacat. Saya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di
dunia ini yang dapat memilih harus dilahirkan oleh orang tua yang mapan, dengan
kondisi tubuh yang normal dan diberi otak yang cerdas. Maka sebagai anak yang
dilahirkan normal, sehat jasmani/rokhani dan orangtua yang cukup mapan,
maka tugas kita adalah tidak merendahkan dan memberi dukungan kepada mereka
yang dilahirkan tidak sempurna seperti kita. Dengan sedikit shock terapi ini
mereka menjadi sadar dan menerima keadaan Arimbi yang jauh lebih memungkinkan
mereka dukung dibanding dengan para penyandang cacat yang bahkan tidak punya
kaki dan tangan.
Mendukung Arimbi akhirnya terasa lebih mungkin dan lebih mudah
mereka lakukan. Berteman dengan Arimbi akhirnya menjadi hal sederhana yang akan
membuat mereka menjadi anak yang ‘berarti’. Menjadi remaja yang ‘baik’
dan tidak ‘bandel’ menjadi hal yang layak mereka pilih.
Akhirnya, tidak
satupun siswa di kelas yang berpotensi masalah ini tinggal kelas. Semua
naik kelas dengan bantuan dan dukungan teman. Dan mereka belajar bagaimana cara
memberi dukungan.
aseperti dimuat pada:
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=754
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/05/belajar-memberi-dukungan-483370.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar