Senin, 29 April 2013

Belajar Memberi Dukungan


Menjadi seorang  pendidik  tidak selalu menyenangkan, apalagi jika menemui siswa yang bermasalah. Namun akan lain rasanya jika kita mengetahui siswa yang dulu ‘bermasalah’  ternyata berhasil melampauinya dengan baik dan berhasil.

Sebut saja namanya Arimbi.  Tiba-tiba seseorang menitipkan pesan ada bingkisan untuk saya. Setelah dibuka ternyata kado dari Arimbi.  Saya jadi teringat kelas beberapa tahun yang lalu dimana saya menjadi wali kelasnya. Ketika diumumkan saya menjadi wali kelas tersebut, para guru tersenyum dan beberapa berkomentar “wah, dapat kelas yang hebat”.  Semua sudah tahu bahwa kelas ini memang selalu  muncul masalah dari tahun ke tahun. Meskipun kelas diisi oleh siswa yang berbeda. 





Meskipun bukan kali pertama menjadi wali kelas di kelas kategori susah, namun perlu disiapkan strategi untuk mengantar kelas tersebut agar para siswanya tidak menghadapi masalah, khususnya akademik dan non akademik yang akan menjadi penghalang pada saat kenaikan kelas. Beberapa kasus non akademik  yang berpotensi menjadi penghalang siswa untuk tidak naik kelas adalah kedisiplinan misalnya sering bolos atau kekerasan misalnya perkelahian atau tawuran.
Antisipasi untuk potensi kenakalan yang mengarah pada kekerasan (perkelahian dan tawuran) sudah berhasil diantisipasi karena sepanjang satu tahun kita lewati, tidak satupun kasus kekerasan muncul dari kelas ini. Namun justru mulai muncul masalah yang bersifat individu.  Ada beberapa kasus, salah satunya datang dari Arimbi.  Siswi  pendiam dan belum pernah bermasalah, tiba-tiba tidak mau masuk sekolah. Saya pikir hanya masalah kecil sampai orang tuanya menelpun meminta bertemu dengan wali kelas dan wali BK.
Sebelumnya, ada informasi yang masuk bahwa Arimbi tidak masuk jika ada mata pelajaran tertentu. Sampai saya konfirmasi dengan guru yang bersangkutan ternyata  sama sekali tidak ada masalah. Lalu beberapa minggu kemudian  Arimbi tidak masuk lagi dan ternyata dengan alasan yang berbeda. Dia tidak masuk bukan pada masalah dengan guru dengan mata pelajaran yang sama dengan alasan pertama.

Saya berdiskusi dengan guru BK-nya dan kami meneliti penyebabnya dengan mencari informasi melalui teman, guru, dan orang tuanya. Rupanya kami berhasil membuat kesimpulan sementara bahwa masalah yang menyebabkan Arimbi tidak mau masuk kelas adalah jika ada tugas yang harus dilakukan dengan berkelompok.
Arimbi anak yang pendiam dan hanya punya satu teman, yaitu Dina, teman sebangkunya. Setelah dilakukan pengamatan disimpulkan memang Arimbi tidak pandai berteman. Meski dia tidak pernah membuat masalah, saya sebenarnya sudah agak khawatir dengan sikapnya yang terlalu pendiam. Semula saya menduga, Arimbi minder. Saya mendorong teman-temannya untuk mau mengajaknya berkomunikasi dan bermain bersama. Saya sendiri mendorong dia untuk mau berteman dengan bertanya dan mendorong supaya dia ke kantin bersama temannya.

Sampai akhirnya saya melihat masalah ini manjadi serius ketika orantuanya menginformasikan bahwa putri mereka tidak mau bangun dan keluar dari kamarnya serta mengatakan tidak mau sekolah. Dia meminta untuk homeschooling. Wah, ini menjadi sangat serius. Saya merasa saya tidak boleh membiarkan ini sampai saya tahu masalah sebenarnya.
Langkah pertama yang saya ambil adalah mencoba membuka dialog dengan Arimbi dan membujuknya kembali ke sekolah dan kedua menyiapkan kondisi sosial yang mendukung dia  di kelasnya setelah saya berhasil membujuknya kembali ke kelas.





Saya yakin bahwa membujuk Arimbi untuk kembali ke kelas, mungkin bisa dilakukan dengan tidak terlalu sulit. Tetapi membuat dia untuk tetap bertahan  berada pada lingkungan kelas adalah hal yang tidak mungkin dilakukan tanpa kerjasama dan dukungan teman-temannya. Arimbi akhinya kembali dengan bantuan seorang teman psikolog yang mengembalikan dia ke sekolah tanpa harus memilih home school.

Inilah bagian tersulitnya. Membuat teman-teman di kelas menerimanya dan mau menjadi temannya. Memang pada awalnya sekelompok anak tidak melihat kepentingan mereka harus memberi dukungan pada Arimbi. Bagi mereka, tidak ada untungnya mereka harus menjadi orang yang harus memahami. Meskipun sebagian lagi telah menyatakan dukungannya. Sebagian lagi mau mendukung tetapi menyerah karena masalah psikologis Arimbi memang juga membuat mereka merasa dia tidak mau bekerja sama.

Pada akhirnya kelas ini menjadi solid ketika diajak berkunjung ke sebuah panti penyandang cacat. Saya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memilih harus dilahirkan oleh orang tua yang mapan, dengan kondisi tubuh yang normal dan diberi otak yang cerdas. Maka sebagai anak yang dilahirkan normal, sehat jasmani/rokhani  dan orangtua yang cukup mapan, maka tugas kita adalah tidak merendahkan dan memberi dukungan kepada mereka yang dilahirkan tidak sempurna seperti kita. Dengan sedikit shock terapi ini mereka menjadi sadar dan menerima keadaan Arimbi yang jauh lebih memungkinkan mereka dukung dibanding dengan para penyandang cacat yang bahkan tidak punya kaki dan tangan.

Mendukung Arimbi akhirnya terasa lebih mungkin dan lebih mudah mereka lakukan. Berteman dengan Arimbi akhirnya menjadi hal sederhana yang akan membuat mereka menjadi anak yang  ‘berarti’. Menjadi remaja yang ‘baik’ dan tidak ‘bandel’ menjadi hal yang layak mereka pilih.
Akhirnya, tidak satupun siswa di kelas yang berpotensi masalah ini tinggal  kelas. Semua naik kelas dengan bantuan dan dukungan teman. Dan mereka belajar bagaimana cara memberi dukungan. 

aseperti dimuat pada:
 http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=754
http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/05/belajar-memberi-dukungan-483370.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar