Senin, 29 April 2013

KADO ULTAH






Ketika kegelisahan menyergap sangat, Hanya coretan kegalauan yang tersisa
Mudah-mudahan ini menjadi obat galau, betapa tidak mudah menjaga sebuah visi yang besar
Dan sudah terlanjur besaryang namanya …. M-u-h-a-m-m-a-d-i-y-a-h

Kira-kira 62 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 2 Oktober 1950 di sebuah rumah milik Bapak  H. Sarbini, berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang akhirnya diberi nama SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lahirnya sekolah ini berangkat dari sebuah ketulusan dan kecintaan terhadap Muhammadiyah dan dunia pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 dibangun dari keprihatinan, kesederhanaan, keikhlasan dan kecintaan. Para pendiri bermaksud untuk memberi wadah pendidikan bagi warga Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang saat itu memerlukan wadah lebih besar setelah  SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta tidak lagi mampu menampung animo masyarakat.

Ditilik dari tahun berdirinya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta lahir tidak lama setelah kemerdekaan Republik Indonesia. Kekuasaan kolonial telah melahirkan stratifikasi atau kelompok masyarakat: penduduk pribumi pada lapisan terendah, penduduk Eropa menduduki kelompok atas dan penduduk Timur Asing seperti orang Cina, Jepang, Arab dan India. Penguasa kolonial tentu saja akan membatasi sesempit-sempitnya bagi kelompok pribumi untuk mendapatkan akses pendidikan demi kepentingan kolonialnya. Meskipun pada tahun 1950 Indonesia secara definitif sudah menyatakan merdeka, tetapi secara politis keadaan negara Indonesia masa itu belum aman dan bebas. Hal inilah yang membuat pendirian lembaga pendidikan yang lahir dari inisiatif pribumi akan menjadi sangat strategis.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang
¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

Semangat KH. A. Dahlan tersebut diimplikasikan antara lain dalam pembangunan dunia pendidikan di tanah air. Apa yang dilakukan KH. A. Dahlan lewat Muhammadiyah melalui kiprah dakwah dan amal usahanya semuanya di khikmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal.
  
Di tengah gegap gempita rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memeriahkan hari lahirnya, tulisan  ini diharapkan dapat melihat lebih jauh siapa dan apa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, dari mana asalnya dan apa arah didirikannya. Mudah-mudahan renungan ini mampu menjadi penghibur sekaligus kado bagi para pendiri sehingga mereka tidak boleh pernah menyesal telah mendirikan sekolah ini.

              Pada pendahuluan tulisan ini, dapat digambarkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari persyarikatan Muhammadiyah sehingga derapnya tidak terlepas dari tujuan Muhammadiyah. Dalam maklumat
  PP Muhammadiyah tentang tuntunan penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke-102 ditegaskan bahwa peringatan Milad yang diselenggarakan baik oleh Pimpinan Ortom dari Wilayah hingga Ranting maupun AUM, didasarkan pada rasa keprihatinan terhadap persoalan bangsa sehingga tema yang diangkat adalah “Muhammadiyah Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa”.
Potret
  SMA Muhammadiyah 2  Yogyakarta saat ini dapat digambarkan dari sisi pencapaian yang berupa prestasi-prestasi yang sudah diraihnya. Sejak mendapat penetapan dari Direktorat  Pendidikan DEPDIKNAS sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional  (SMA  RSBI), sekolah ini telah mendapat capaian positif, sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik dapat dituangkan dalam berlembar-lembar kertas. Kunjungan-kunjungan dari sekolah atau lembaga domestik maupun dari luar negeri cukup memperlihatkan bahwa sekolah kita adalah sekolah yang dipandang baik.

Semua capaian ini tidak akan hanya menjadi upaya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menjaga eksistensinya dari dunia modern yang penuh dengan sifat kompetitif. Tidak ada yang salah dengan langkah-langkah pemertahanan diri. Namun hal ini tidak dapat dibiarkan karena semakin lama perjalanan AUM ini akan sekedar berupaya memenuhi kebutuhan publik modern an sich. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka apa  yang dicita-citakan oleh para pendiri AUM tidak akan ada bedanya dengan pendirian perusahaan yang hanya berujung pada masalah profit belaka. KH. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah hanya ditujukan dan dikhidmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal.  Ditengah tekanan kolonialisme,  gagasan mendirikan sekolah-sekolah untuk mencerdaskan bangsa  tidak mungkin dilakukan sekedar jika hanya berpikir apakah lembaga pendidikan ini akan mendatangkan  keuntungan?

Orientasi sekolah-sekolah kini adalah bagaimana tetap bertahan hidup, bukan mencari apa yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengembalikan martabatnya dari persoalan-persoalan kebangsaan, lalu bagaimana melahirkan generasi masa depan yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini. Maka tema yang diangkat oleh PP Muhammadiyah dalam memperingati Milad yaitu Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa sangatlah tepat untuk digali oleh aktivis penggerak organisasi, simpatisan maupun seluruh warga  Persyarikatan untuk menyongsong masa depan. 
Muhammadiyah, baik langsung maupun tidak, semestinya turut bertanggung jawab terhadap persoalan kebangsaan. Persoalan bangsa ini adalah persoalan Muhammadiyah. Dan persoalan Muhammadiyah berarti juga menjadi tanggungjawab AUM khususnya yang bergerak di level akar rumput (grassroot) dan di bidang pencetak generasi. Maka AUM di bidang pendidikan akan menjadi ujung  tombak  bagi  upaya menjawab persoalan bangsa.
Tema “Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa” sebenarnya sebuah ironi dalam lembaga pendidikan. Pendidikan semestinya diselenggarakan untuk merubah perilaku.  Ketika visi ini tidak lagi menjadi fokus, maka penyelenggaraan pendidikan hanya akan ditelan oleh tuntutan material peradaban modern. Seorang  guru ekonomi hanya akan mengingatkan siswanya bagaimana prinsip-prinsip ekonomi menurut para tokoh ekonomi, tetapi lupa memberi tekanan apa manfaat belajar prinsip-prinsip ekonomi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan yang manusiawi. Siswa hanya mengingat, menghapal dan menganalisa aktifitas ekonomi modern yang didominasi oleh teori-teori yang lahir dari barat, tetapi tidak mampu berempati terhadap sistem perekonomian kerakyatan.

Mengapa visi pendidikan ini tidak lagi hidup di benak para pendidik maupun pengambil kebijakan? Visi pendidikan yang merupakan harapan dari para pendiri sekolah kita untuk mencetak generasi kuat,  diselewengkan sekedar  tempat yang menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan fisik semata. Tempat ini sekarang seolah hanya mesin peradaban modern tanpa mengenal jati diri. Jika standar RSBI atau ISO menjadi tuntutan dunia pendidikan modern, maka ikutlah kita, sehingga kita akan menjadi bagian dari kehidupan modern tersebut. Kita lupa bahwa kepentingan hakiki dari  pendidikan adalah menciptakan generasi hidup yang tangguh menghadapi kepalsuan dan kemayaan. Pendidikan seharusnya menggali dan menegakkan diri meskipun berada pada ruang dan waktu yang berbeda.

Jika pendirian SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada masanya adalah untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan bangsa saat itu, melahirkan generasi yang berkepribadian tangguh dalam menghadapi kolonialisasi, maka seharusnya SMA Muhammadiyah 2 hari ini, pada ulang tahunnya yang ke-62 merevitalisasi dirinya pada sebuah redefinisi apa sebenarnya kebutuhan bangsa ini sekarang dan ke depan.
                    Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini
  membuka  sedikit  simpul  kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.



  
Yogyakarta,, 1 oktober 2012

Catatan dini hari menjelang Milad ke-62
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Dimuat pada
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=773





Tidak ada komentar:

Posting Komentar