Ketika
kegelisahan menyergap sangat, Hanya coretan kegalauan yang tersisa
Mudah-mudahan
ini menjadi obat galau, betapa tidak mudah menjaga sebuah visi yang besar
Dan
sudah terlanjur besaryang namanya …. M-u-h-a-m-m-a-d-i-y-a-h
Kira-kira 62 tahun
yang lalu, tepatnya tanggal 2 Oktober 1950 di sebuah rumah milik Bapak H. Sarbini, berdirilah sebuah lembaga pendidikan yang
akhirnya diberi nama SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Lahirnya sekolah ini
berangkat dari sebuah ketulusan dan kecintaan terhadap Muhammadiyah dan dunia
pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa SMA Muhammadiyah 2
dibangun dari keprihatinan, kesederhanaan, keikhlasan dan kecintaan. Para
pendiri bermaksud untuk memberi wadah pendidikan bagi warga Muhammadiyah pada
khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya yang saat itu memerlukan wadah
lebih besar setelah SMA Muhammadiyah 1
Yogyakarta tidak lagi mampu menampung animo masyarakat.
Ditilik dari tahun
berdirinya, SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta lahir tidak lama setelah kemerdekaan
Republik Indonesia. Kekuasaan kolonial telah melahirkan stratifikasi atau
kelompok masyarakat: penduduk pribumi pada lapisan terendah, penduduk Eropa
menduduki kelompok atas dan penduduk Timur Asing seperti orang Cina, Jepang,
Arab dan India. Penguasa kolonial tentu saja akan membatasi sesempit-sempitnya
bagi kelompok pribumi untuk mendapatkan akses pendidikan demi kepentingan
kolonialnya. Meskipun pada tahun 1950 Indonesia secara definitif sudah
menyatakan merdeka, tetapi secara politis keadaan negara Indonesia masa itu
belum aman dan bebas. Hal inilah yang membuat pendirian lembaga pendidikan yang
lahir dari inisiatif pribumi akan menjadi sangat strategis.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.
Berdirinya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta tidak terlepas dari rangkaian grand design yang dirintis KH. A. Dahlan dalam mengimbangi pola pendidikan pribumi dari kelompok Islam yang saat itu didominasi oleh kelompok pesantren yang cenderung bersifat informal. Disamping membendung pengaruh zending dengan pendirian sekolah-sekolah misi yang mendapat dukungan besar dari pemerintah Belanda, lembaga pendidikan Muhammadiyah dirancang seperti pendidikan Barat. Hal tersebut tidak begitu saja diterima oleh kelompok Islam tradisional. KH. A. Dahlan dituduh membuat tafsir Qur’an baru yang dianggap sebagai perbuatan terlarang. Ahmad Dahlan menanggapi serangan tersebut dengan menjawab, “Muhammadiyah berusaha/bercita-cita mengang¬kat agama Islam dari keadaan terbelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.
Semangat KH. A. Dahlan
tersebut diimplikasikan antara lain dalam pembangunan dunia pendidikan di tanah
air. Apa yang dilakukan KH. A. Dahlan lewat Muhammadiyah melalui kiprah dakwah
dan amal usahanya semuanya di khikmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan
universal.
Di tengah gegap
gempita rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memeriahkan hari lahirnya,
tulisan ini diharapkan dapat melihat lebih jauh siapa dan
apa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, dari mana asalnya dan apa arah didirikannya.
Mudah-mudahan renungan ini mampu menjadi penghibur sekaligus kado bagi para
pendiri sehingga mereka tidak boleh pernah menyesal telah mendirikan sekolah
ini.
Pada pendahuluan tulisan ini, dapat digambarkan bahwa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari persyarikatan Muhammadiyah sehingga derapnya tidak terlepas dari tujuan Muhammadiyah. Dalam maklumat PP Muhammadiyah tentang tuntunan penyelenggaraan Milad Muhammadiyah ke-102 ditegaskan bahwa peringatan Milad yang diselenggarakan baik oleh Pimpinan Ortom dari Wilayah hingga Ranting maupun AUM, didasarkan pada rasa keprihatinan terhadap persoalan bangsa sehingga tema yang diangkat adalah “Muhammadiyah Membangun Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa”.
Potret SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta saat ini dapat digambarkan dari sisi pencapaian yang berupa prestasi-prestasi yang sudah diraihnya. Sejak mendapat penetapan dari Direktorat Pendidikan DEPDIKNAS sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SMA RSBI), sekolah ini telah mendapat capaian positif, sehingga animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya cukup tinggi. Beberapa prestasi baik akademik maupun non-akademik dapat dituangkan dalam berlembar-lembar kertas. Kunjungan-kunjungan dari sekolah atau lembaga domestik maupun dari luar negeri cukup memperlihatkan bahwa sekolah kita adalah sekolah yang dipandang baik.
Semua capaian ini
tidak akan hanya menjadi upaya SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta menjaga
eksistensinya dari dunia modern yang penuh dengan sifat kompetitif. Tidak ada
yang salah dengan langkah-langkah pemertahanan diri. Namun hal ini tidak dapat
dibiarkan karena semakin lama perjalanan AUM ini akan sekedar berupaya memenuhi
kebutuhan publik modern an sich. Jika hal ini terus menerus dilakukan maka apa yang dicita-citakan oleh para pendiri AUM tidak
akan ada bedanya dengan pendirian perusahaan yang hanya berujung pada masalah
profit belaka. KH. A. Dahlan mendirikan Muhammadiyah hanya ditujukan dan
dikhidmadkan untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal. Ditengah tekanan kolonialisme, gagasan mendirikan sekolah-sekolah untuk
mencerdaskan bangsa tidak mungkin
dilakukan sekedar jika hanya berpikir apakah lembaga pendidikan ini akan
mendatangkan keuntungan?
Orientasi
sekolah-sekolah kini adalah bagaimana tetap bertahan hidup, bukan mencari apa
yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengembalikan martabatnya dari
persoalan-persoalan kebangsaan, lalu bagaimana melahirkan generasi masa depan
yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini. Maka tema yang diangkat
oleh PP Muhammadiyah dalam memperingati Milad yaitu Membangun Karakter Utama
Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa sangatlah tepat untuk digali oleh aktivis
penggerak organisasi, simpatisan maupun seluruh warga Persyarikatan untuk menyongsong masa depan.
Muhammadiyah, baik
langsung maupun tidak, semestinya turut bertanggung jawab terhadap persoalan
kebangsaan. Persoalan bangsa ini adalah persoalan Muhammadiyah. Dan persoalan
Muhammadiyah berarti juga menjadi tanggungjawab AUM khususnya yang bergerak di
level akar rumput (grassroot) dan di bidang pencetak generasi. Maka AUM di
bidang pendidikan akan menjadi ujung tombak bagi upaya menjawab
persoalan bangsa.
Tema “Membangun
Karakter Utama Untuk Kemandirian dan Kemajuan Bangsa” sebenarnya sebuah ironi
dalam lembaga pendidikan. Pendidikan semestinya diselenggarakan untuk merubah
perilaku. Ketika visi ini tidak lagi menjadi fokus, maka
penyelenggaraan pendidikan hanya akan ditelan oleh tuntutan material peradaban
modern. Seorang guru ekonomi hanya
akan mengingatkan siswanya bagaimana prinsip-prinsip ekonomi menurut para tokoh
ekonomi, tetapi lupa memberi tekanan apa manfaat belajar prinsip-prinsip
ekonomi dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan yang manusiawi. Siswa hanya
mengingat, menghapal dan menganalisa aktifitas ekonomi modern yang didominasi
oleh teori-teori yang lahir dari barat, tetapi tidak mampu berempati terhadap
sistem perekonomian kerakyatan.
Mengapa visi
pendidikan ini tidak lagi hidup di benak para pendidik maupun pengambil
kebijakan? Visi pendidikan yang merupakan harapan dari para pendiri sekolah
kita untuk mencetak generasi kuat, diselewengkan sekedar tempat yang menjadi tumpuan untuk memenuhi
kebutuhan fisik semata. Tempat ini sekarang seolah hanya mesin peradaban modern
tanpa mengenal jati diri. Jika standar RSBI atau ISO menjadi tuntutan dunia
pendidikan modern, maka ikutlah kita, sehingga kita akan menjadi bagian dari
kehidupan modern tersebut. Kita lupa bahwa kepentingan hakiki dari pendidikan adalah menciptakan generasi hidup yang
tangguh menghadapi kepalsuan dan kemayaan. Pendidikan seharusnya menggali dan
menegakkan diri meskipun berada pada ruang dan waktu yang berbeda.
Jika pendirian SMA
Muhammadiyah 2 Yogyakarta pada masanya adalah untuk memenuhi tuntutan dan
kebutuhan bangsa saat itu, melahirkan generasi yang berkepribadian tangguh
dalam menghadapi kolonialisasi, maka seharusnya SMA Muhammadiyah 2 hari ini,
pada ulang tahunnya yang ke-62 merevitalisasi dirinya pada sebuah redefinisi apa
sebenarnya kebutuhan bangsa ini sekarang dan ke depan.
Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini membuka sedikit simpul kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.
Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya menjadi renungan di usia SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta yang sudah lebih dari separuh abad, sebuah usia yang matang. Mudah-mudahan renungan ini membuka sedikit simpul kerumitan dan carut marut bangsa ini. Dan dari sini kita mampu menghadapi masa depan dengan sebuah harapan yang sesuai dengan cita-cita luhur para pendiri.
Yogyakarta,, 1 oktober 2012
Catatan dini hari menjelang Milad ke-62
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
Dimuat
pada
http://www.smuha-yog.sch.id/index.php?pujek=daftarberita&aksi=lihat&id=773


Tidak ada komentar:
Posting Komentar