Jumat, 26 April 2013

INDONESIA BERUBAH

Tulisan ini di posting melalui kira-kira 1 tahun lalu melalui Kompasiana pada 5 April 2012 menjelang menjelang pemilihan pilgub DKI.
Sebagian orang percaya bahwa perubahan mainstream masyarakat mengenai pemimpinlah yang akan merubah Indonesia menjadi negeri yang lebih baik...

Saat konstelasi politik berbicara kekuatan partai yang mempengaruhi terpilihnya seseorang dalam kancah perpolitikan kita, ternyata tidak diikuti oleh pemilih.

Selamat menikmati catatan ini, mudah-mudahan tulisan ini memberi trigger pada kita tentang siapa sosok yang cocok akan kita pilih dan bahwa kalkulasi politis yang digembar gemborkan oleh politisi tidak selalu sesuai dengan pemikiran masyarakat pemilih.

Antara Jokowi, PKL dan Satpol PP


13336494871069245912
Illustrasi: solopos.com
Rupanya calgub yang paling siap untuk kampanye Jakarta 1 adalah JOKOWI dan AHOK. Buktinya, mulai dari baju yang mereka kenakan pertama kali di depan publik-pun (dipakai mendaftar di KPUD Jakarta pada tanggal 24 Maret 2012) sudah diperhitungkan akan menjadi benchmark mereka. Jokowi sudah menyatakan bahwa baju motif kotak-kotak ini nantinya akan dijadikan identitas resmi dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta ( Solo, Selasa 3/4).
Saat tampil dengan baju kotak-kotak strip merah itu, saya agak mengernyit. Karena sangat berbeda dengan calon lainnya yang mengenakan baju yang didominasi oleh warna putih. Menurut saya kesan yang ingin ditampilkan Jokowi adalah  baju yang menyatakan sebuah tanda bahwa dia adalah tokoh yang sederhana, merakyat dan siap bekerja keras. Baju ini mengesankan tidak ada jarak antara dia dengan rakyat, bahkan dia memberi kesan bahwa dia berasal dari bawah, dari rakyat. Jokowi sendiri mengatakan bahwa baju kotak-kotak dengan warna yang bermacam-macam itu mengandung filosofi bahwa masyarakat Jakarta majemuk dan kehidupan di sana terkotak-kotak. Selanjutnya dia menyatakan bahwa baju yang dipakai mengandung arti dan persoalan inti yang nantinya akan ditangani agar Jakarta lebih baik. Pernyataan Jokowi ini memperlihatkan bahwa dia adalah orang yang paham betul dengan apa yang akan dihadapi. Meskipun dia “hanyalah” seorang pemimpin dari wilayah yang tidak besar dan kompleks seperti Jakarta, dia memahami karakter Jakarta: potensinya, orang-orangnya, intrik-intriknya dan keluasan masalahnya.
Tidak hanya itu, Jokowi juga paham bagaimana cara berkomunikasi dengan publik. Dengan mengeluarkan statemen bahwa dia akan melakukan kampanye pilgub  paling irit  dibandingkan calon-calon dari partai lain, sebenarnyaJokowi sedang melawan arus. Seperti kita ketahui bahwa untuk menjadi seorang pemimpin di daerah tingkat II saja diperlukan dana milyaran untuk safari kampanye. Namun Jokowi menantang kelaziman bahwa untuk merebut hati Jakarta yang sangat metropolis, dimana semua dihargai dengan uang, dia malah bilang akan menghemat pengeluaran untuk kampanye. Lihat saja, jika pada saat kampanye nanti para tim sukses harus memproduksi ribuan kaos dan spanduk untuk dibagi dan disebar, Jokowi hanya bermodal baju kotak-kotak yang dideklarasikannya sebagai identitas resmi-nya. Baju itu, kini justru sudah menjadi trend dan diburu di pasar Tanah Abang. Dengan dipatok dengan harga 75.000 baju kotak-kotak ini akan mendatangkan “berkah” bagi para pedagang di pasar tanah abang dan para PKL di pasar Klewer Solo.
Jelas Jokowi sudah membidik calon pemilihnya. Bisa anda bayangkan jika baju kotak-kotak Jokowi ini laris manis layaknya baju kaftan yang dipopulerkan oleh Syahrini. Jokowi tidak hanya akan disukai oleh para pedagang yang mendapatkan berkah dengan memproduksi baju kotak-kotak ini. Namun Jokowi telah menebarkan semangat egaliter dan juga menebar harapan bagi sebagian masyarakat Jakarta yang sengsara karena masalah pangan, sandang dan papan.
Keberadaan Satpol PP yang selama ini dijadikan alat oleh jajaran Pemda sebagai tameng untuk memuluskan kebijakan-kebijakan yang jarang pro-rakyat, dibalik logikanya oleh Jokowi. Satpol PP yang selama ini diposisikan bersebrangan dengan PKL atau PMKS, justru diposisikan sebagai pelindung warga dan masyarakat. Secara nalar, memang agak kurang cerdas cara berpikir para pengambil kebijakan yang memposisikan Satpol PP menjadi musuh para PKL, pedagang asongan, tukang becak, atau pihak-pihak yang dianggap bersebrangan dengan kebijakan Pemda.
Jokowi, berhasil atau tidak menjadi Jakarta 1, tetapi dia telah merubah sebuah paradigma cara memimpin yang manusiawi. Bahwa PKL adalah warga yang sama dengan para pemilik modal besar. Satpol PP juga adalah warga yang berasal dari masyarakat sehingga aneh jika harus dihadapkan secara berseberangan dengan anggota masyarakat lain yang sama-sama perlu uang untuk menghidupi keluarganya. Jokowi sedang membangun pola kepemimpinan yang memberi setiap orang kesempatan yang sama untuk hidup berdampingan secara harmoni, sesuatu yang langka dilakukan oleh pemimpin lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar