Sebagian orang percaya bahwa perubahan mainstream masyarakat mengenai pemimpinlah yang akan merubah Indonesia menjadi negeri yang lebih baik...
Saat konstelasi politik berbicara kekuatan partai yang mempengaruhi terpilihnya seseorang dalam kancah perpolitikan kita, ternyata tidak diikuti oleh pemilih.
Selamat menikmati catatan ini, mudah-mudahan tulisan ini memberi trigger pada kita tentang siapa sosok yang cocok akan kita pilih dan bahwa kalkulasi politis yang digembar gemborkan oleh politisi tidak selalu sesuai dengan pemikiran masyarakat pemilih.
Antara Jokowi, PKL dan Satpol PP
Illustrasi: solopos.com
Rupanya calgub yang paling siap untuk kampanye Jakarta 1
adalah JOKOWI dan AHOK. Buktinya, mulai dari baju yang mereka kenakan
pertama kali di depan publik-pun (dipakai mendaftar di KPUD Jakarta pada
tanggal 24 Maret 2012) sudah diperhitungkan akan menjadi benchmark mereka. Jokowi sudah menyatakan bahwa baju motif kotak-kotak ini nantinya akan dijadikan identitas resmi dalam pencalonan Gubernur DKI Jakarta ( Solo, Selasa 3/4).
Saat tampil dengan baju kotak-kotak strip
merah itu, saya agak mengernyit. Karena sangat berbeda dengan calon
lainnya yang mengenakan baju yang didominasi oleh warna putih. Menurut saya kesan yang ingin ditampilkan Jokowi adalah baju yang menyatakan sebuah tanda bahwa dia adalah tokoh yang sederhana, merakyat dan siap bekerja keras. Baju ini mengesankan tidak ada jarak antara dia dengan rakyat, bahkan dia memberi kesan
bahwa dia berasal dari bawah, dari rakyat. Jokowi sendiri mengatakan
bahwa baju kotak-kotak dengan warna yang bermacam-macam itu mengandung
filosofi bahwa masyarakat Jakarta majemuk dan kehidupan di sana
terkotak-kotak. Selanjutnya dia menyatakan bahwa baju yang dipakai
mengandung arti dan persoalan inti yang nantinya akan ditangani agar
Jakarta lebih baik. Pernyataan Jokowi ini memperlihatkan bahwa dia
adalah orang yang paham betul dengan apa yang akan
dihadapi. Meskipun dia “hanyalah” seorang pemimpin dari wilayah yang
tidak besar dan kompleks seperti Jakarta, dia memahami karakter Jakarta:
potensinya, orang-orangnya, intrik-intriknya dan keluasan masalahnya.
Tidak hanya itu,
Jokowi juga paham bagaimana cara berkomunikasi dengan publik. Dengan
mengeluarkan statemen bahwa dia akan melakukan kampanye pilgub paling
irit dibandingkan calon-calon dari partai lain, sebenarnyaJokowi sedang
melawan arus. Seperti kita ketahui bahwa untuk menjadi seorang pemimpin
di daerah tingkat II saja diperlukan dana milyaran untuk safari
kampanye. Namun Jokowi menantang kelaziman bahwa untuk merebut hati
Jakarta yang sangat metropolis, dimana semua dihargai dengan uang, dia
malah bilang akan menghemat pengeluaran untuk kampanye. Lihat saja, jika
pada saat kampanye nanti para tim sukses harus memproduksi ribuan kaos
dan spanduk untuk dibagi dan disebar, Jokowi hanya bermodal baju
kotak-kotak yang dideklarasikannya sebagai identitas resmi-nya. Baju
itu, kini justru sudah menjadi trend dan diburu di pasar Tanah Abang. Dengan
dipatok dengan harga 75.000 baju kotak-kotak ini akan mendatangkan
“berkah” bagi para pedagang di pasar tanah abang dan para PKL di pasar
Klewer Solo.
Jelas Jokowi sudah membidik calon pemilihnya. Bisa anda bayangkan jika baju kotak-kotak Jokowi ini laris manis layaknya baju kaftan yang dipopulerkan oleh Syahrini. Jokowi
tidak hanya akan disukai oleh para pedagang yang mendapatkan berkah
dengan memproduksi baju kotak-kotak ini. Namun Jokowi telah menebarkan
semangat egaliter dan juga menebar harapan bagi sebagian masyarakat
Jakarta yang sengsara karena masalah pangan, sandang dan papan.
Keberadaan Satpol PP
yang selama ini dijadikan alat oleh jajaran Pemda sebagai tameng untuk
memuluskan kebijakan-kebijakan yang jarang pro-rakyat, dibalik logikanya
oleh Jokowi. Satpol PP yang selama ini diposisikan bersebrangan dengan
PKL atau PMKS, justru diposisikan sebagai pelindung warga dan
masyarakat. Secara nalar, memang agak kurang cerdas cara berpikir para
pengambil kebijakan yang memposisikan Satpol PP menjadi musuh para PKL, pedagang asongan, tukang becak, atau pihak-pihak yang dianggap bersebrangan dengan kebijakan Pemda.
Jokowi, berhasil atau tidak menjadi Jakarta 1,
tetapi dia telah merubah sebuah paradigma cara memimpin yang manusiawi.
Bahwa PKL adalah warga yang sama dengan para pemilik modal besar.
Satpol PP juga adalah warga yang berasal dari masyarakat sehingga aneh
jika harus dihadapkan secara berseberangan dengan anggota masyarakat
lain yang sama-sama perlu uang untuk menghidupi keluarganya. Jokowi
sedang membangun pola kepemimpinan yang memberi setiap orang kesempatan
yang sama untuk hidup berdampingan secara harmoni, sesuatu yang langka
dilakukan oleh pemimpin lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar