Jumat, 26 April 2013

Sekolah Telah Tiba: I Love Back to School


13574559771750109919


Jika ada lagu berjudul ‘Libur Telah Tiba’, maka slogan ‘Sekolah Telah Tiba”, rasanya lebih cocok untuk keadaan saat ini. Dua minggu lebih para siswa sudah libur, kecuali siswa kelas XII yang harus menambah pendalaman materi selama beberapa hari untuk mempersiapkan Ujian Nasional di waktu dekat nanti.
Mungkin banyak dari kita yang berseloroh ‘wah, liburnya sudah habis’, atau ‘selamat datang tugas-tugas dan kesibukan yang banyak dan menggunung’. Selorohan ini adalah hal yang jamak terjadi. Fenomena dimana banyak dari kita yang merasa ‘tidak suka kembali kepada pekerjaan kita’ bisa di-analog-kan dengan istilah yang nge-trend dengan “I hate Monday”. Istilah ini sangat popular di kalangan pekerja. Saya-pun jika sudah terlalu padat jadwalnya akan berpikir jumat sore adalah hari yang sungguh melegakan karena akan dapat libur sabtu dan minggu. Tetapi keesokannya pada minggu sore akan bilang “I hate Monday”.
Namun, beberapa hari lalu, paman sekaligus teman dialog kami datang membawa buku Arvan Pradiansyah, seorang Happier Inspirer, berjudul “I Love Monday”.
Yang menarik dari buku tersebut adalah penulisnya membalik 180 derajat paradigma “I Hate Monday” menjadi “I love Monday”. Kata “hate’ yang berarti membenci di-antonim-kan dengan kata “love” yang berarti mencintai.
Mengapa kita harus berkata “ I love Monday” atau “I Hate Monday”? Monday adalah simbol mulainya kita bekerja. Isyarat bahwa dalam kalender mingguan kita, hari dimulai Senin berakhir dengan Minggu. Maka ketika kita memasuki hari Senin (Monday), kita selalu membayangkan hari-hari yang penuh dengan kesibukan dengan pekerjaan, tugas sekolah dan lainnya. Bagaimana supaya kita bisa menikmati hari memulai semua kesibukan tersebut?
Arvan Pradiansyah dalam bukunya mengajak pembacanya pada satu titik bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini.
Mengapa kita harus bekerja atau belajar? Arvan membagi tiga paradigma.
Pertama, ketika kita melihat pekerjaan (=baca bersekolah atau belajar) hanya sebagai Job. Jika anda sebagai pekerja maka alasan anda bekerja adalah karena ingin mendapatkan uang. Jika anda murid, maka motivasi anda bersekolah adalah untuk mendapatkan nilai bagus atau bahkan hanya karena memang harus ke sekolah. Soalnya semua anak harus pergi ke sekolah. Maka, bekerja atau bersekolah akhirnya hanya menjadi kewajiban, bukan sebuah pilihan. Bekerja dan belajar menjadi sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang kita senangi. Maka PR, ulangan, mencatat, menyimak dan menghapal bagi para siswa hanya akan menjadi aktifitas yang menyiksa. Aktifitas yang harus segera diselesaikan bagi para pekerja adalah ‘mengingat bos sudah men-deadline pekerjaan kita’. Atau guru kita sudah menunggu tugas kita.
Kata Arvan Pradiansyah, kita sedang melakukan skenario orang lain. Para pekerja menyelesaikan tugas dari bos-nya dan para siswa belajar karena dituntut oleh gurunya. Celakalah bagi pekerja yang hanya sekedar melakukan pekerjaan bagi kesenangan dan kepuasan bos-nya. Apalagi jika bos-nya tidak kompeten. Ketika bos- kita tidak suka lagi, dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak kita duga. Bahkan, sepandai dan sebagus apapun kita bekerja, dia akan tetap berkata I don’t like you, so I don’t need you. Bagi para siswa, tugas yang dikerjakan dengan maksud untuk memenuhi kewajiban, maka dia akan stress jika kurang paham bagaimana cara mengerjakannya. Maka yang terjadi bahkan menjurus ke kegiatan yang tidak jujur, misalnya mencontek PR teman dan membuka catatan ketika ujian atau ulangan. Maka menurut saya, kita sedang melakukan hal yang berbahaya dan justru merugikan kita.
Paradigm kedua adalah melihat pekerjaan sebagai karir. Lumayan bagus pada tahap ini, karena pekerja memainkan peran sutradara. Pekerja menyusun rencana besar. Setelah saya melakukan ini, saya akan menduduki posisi A, lalu setelah itu posisi B akan dapat diraih dan seterusnya. Bagi para siswa, belajar akan mengantar anda meraih cita-cita, masa depan anda. Kata Arvan Pradiansyah hal ini membuat kita bersemangat dan ini merupakan rumus kesuksesan.
Beberapa tahun lalu saya berada pada tahap ini. Setiap saya merencanakan program A saya akan menduduki posisi A, dan pada program B, saya akan menduduki posisi B. Apa yang terjadi pada kita? Kita menjadi sebuah mesin. Kita menikmati penghargaan nominal dari apa yang sudah dilaukan. Bahkan kita dapat pujian dari yang kita lakukan.  Seorang  teman yang berada pada fase ini, mengucapkan sebuah kata pada moment perpisahannya saat dia resign, tempat ini seperti harimau yang akan menelan saya, maka saya harus berlari. Saya tahu dia suka melakukannya, meski dengan alas an yang berbeda dia harus keluar. Saya hanya tersenyum ketika dia berkata begitu, karena saya pernah merasakannya. Satu hal yang mungkin saat itu tidak dia sadari adalah saya atau dia sedang kehilangan diri sehingga tidak ada  kebahagian. Mudah2an dia menemukan jalan di tempat berbeda.
Ketika berada pada tahap ini, kata Arvan Pradiansyah, dan menurut saya benar, situasi ini menghasilkan kesuksesan, tetapi kebahagiaan tidak berpihak kepada saya. Saya hanya pulang ke rumah dalam kelelahan yang luar biasa bahkan pekerjaan saya bawa pulang. Anak-anak tidak bisa menghampiri saya untuk bercengkerama. Suami sering komplain karena sampai di rumah hanya melihat istri yang kelelahan dan tidak fokus kepada anak. Bahkan dalam keadaan sakit atau cuti mau melahirkan sms dan dering telpun harus dilayani. Saya TIDAK BAHAGIA. Apakah anda juga demikian?
Sebagai solusinya, Arvan Pradiansyah menawarkan paradigma ketiga, yaitu melihat pekerjaan sebagai calling (panggilan). Pada mulanya kita berpikir bahwa yang dicari dan harus ditemukan dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Sebagai manusia beragama yang percaya kepada kekuasaan Allah (=Tuhan) maka kebahagiaan kita adalah sesuatu yang sudah ditentukan atas diri kita oleh-Nya. Maka kita tidak sedang menjalankan scenario kita. Kita sesungguhnya harus menjalani skenario Allah. Disinilah kata kunci bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini dengan sebuah maksud tertentu. Hal ini merupakan misi hidup dan alas an kita dilahirkan ke dunia ini. Saya, lagi-lagi setuju dengan Arvan bahwa tidak ada cara lain yang lebih baik untuk membuat kita selalu bersemangat dalam bekerja kecuali kita melihat pekerjaan/belajar sebagai sebuah panggilan hidup (calling).
Bekerja/belajar hanya sebagai upaya menyenangkan orangtua atau menyenangkan bos, nilai pekerjaan/belajar yang kita lakukan berada di luar diri kita. Karena yang kita inginkan adalah prestasi, uang atau kesenagan orangtua. Tidak ada yang salah dengan ini. Namun, bayangkan jika kita melihat bahwa belajar/ pekerjaan adalah diri kita. Pekerjaan / belajar adalah identitas diri kita. Maka ibadah tersebut benar-benar lahir dari dalam kesadaran diri. Mungkin inilah yang disebut ibadah yang ikhlas.
Demikianlah saya memaknai ajakan Arvan Pradiansyah.
Bagi para siswa yang mesti back to school, Saya ingin berpesan: mari kita melihat sekolah sebagai sebuah tempat bagi anda untuk belajar memenuhi anda sebagai manusia seutuhnya pada saatnya nanti.


Berdasarkan  catatan yang pernah di upload di Kompasiana pada 6 Januari 2013
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar