Jika
ada lagu berjudul ‘Libur Telah Tiba’, maka slogan ‘Sekolah Telah Tiba”,
rasanya lebih cocok untuk keadaan saat ini. Dua minggu lebih para siswa
sudah libur, kecuali siswa kelas XII yang harus menambah pendalaman
materi selama beberapa hari untuk mempersiapkan Ujian Nasional di waktu
dekat nanti.
Mungkin banyak dari kita yang berseloroh ‘wah, liburnya sudah habis’, atau ‘selamat datang tugas-tugas dan kesibukan yang banyak dan menggunung’. Selorohan ini adalah hal yang jamak terjadi. Fenomena
dimana banyak dari kita yang merasa ‘tidak suka kembali kepada
pekerjaan kita’ bisa di-analog-kan dengan istilah yang nge-trend dengan “I hate Monday”.
Istilah ini sangat popular di kalangan pekerja. Saya-pun jika sudah
terlalu padat jadwalnya akan berpikir jumat sore adalah hari yang
sungguh melegakan karena akan dapat libur sabtu dan minggu. Tetapi
keesokannya pada minggu sore akan bilang “I hate Monday”.
Namun, beberapa hari lalu, paman sekaligus teman dialog kami datang membawa buku Arvan Pradiansyah, seorang Happier Inspirer, berjudul “I Love Monday”.
Yang menarik dari buku tersebut adalah penulisnya membalik 180 derajat paradigma “I Hate Monday” menjadi “I love Monday”. Kata “hate’ yang berarti membenci di-antonim-kan dengan kata “love” yang berarti mencintai.
Mengapa kita harus berkata “ I love Monday” atau “I Hate Monday”? Monday adalah
simbol mulainya kita bekerja. Isyarat bahwa dalam kalender mingguan
kita, hari dimulai Senin berakhir dengan Minggu. Maka ketika kita
memasuki hari Senin (Monday),
kita selalu membayangkan hari-hari yang penuh dengan kesibukan dengan
pekerjaan, tugas sekolah dan lainnya. Bagaimana supaya kita bisa
menikmati hari memulai semua kesibukan tersebut?
Arvan Pradiansyah dalam bukunya mengajak pembacanya pada satu titik bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini.
Mengapa kita harus bekerja atau belajar? Arvan membagi tiga paradigma.
Pertama, ketika kita melihat pekerjaan (=baca bersekolah atau belajar) hanya sebagai Job. Jika anda sebagai pekerja
maka alasan anda bekerja adalah karena ingin mendapatkan uang. Jika
anda murid, maka motivasi anda bersekolah adalah untuk mendapatkan nilai
bagus atau bahkan hanya karena memang harus ke sekolah. Soalnya semua
anak harus pergi ke sekolah. Maka, bekerja atau bersekolah akhirnya
hanya menjadi kewajiban, bukan sebuah pilihan. Bekerja dan belajar menjadi sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang kita senangi. Maka PR, ulangan, mencatat, menyimak dan menghapal bagi para siswa hanya akan menjadi aktifitas
yang menyiksa. Aktifitas yang harus segera diselesaikan bagi para
pekerja adalah ‘mengingat bos sudah men-deadline pekerjaan kita’. Atau guru kita sudah menunggu tugas kita.
Kata Arvan Pradiansyah, kita sedang melakukan skenario orang lain. Para
pekerja menyelesaikan tugas dari bos-nya dan para siswa belajar karena
dituntut oleh gurunya. Celakalah bagi pekerja yang hanya sekedar
melakukan pekerjaan bagi kesenangan dan kepuasan bos-nya. Apalagi jika bos-nya tidak kompeten. Ketika bos- kita tidak suka lagi, dia akan melakukan hal yang sama sekali tidak kita duga. Bahkan, sepandai dan sebagus apapun kita bekerja, dia akan tetap berkata I don’t like you, so I don’t need you. Bagi
para siswa, tugas yang dikerjakan dengan maksud untuk memenuhi
kewajiban, maka dia akan stress jika kurang paham bagaimana cara
mengerjakannya. Maka yang terjadi bahkan menjurus ke kegiatan yang tidak
jujur, misalnya mencontek PR teman dan membuka catatan ketika ujian
atau ulangan. Maka menurut saya, kita sedang melakukan hal yang
berbahaya dan justru merugikan kita.
Paradigm kedua adalah melihat pekerjaan sebagai karir. Lumayan
bagus pada tahap ini, karena pekerja memainkan peran sutradara. Pekerja
menyusun rencana besar. Setelah saya melakukan ini, saya akan menduduki
posisi A, lalu setelah itu posisi B akan dapat diraih dan seterusnya.
Bagi para siswa, belajar akan mengantar anda meraih cita-cita, masa
depan anda. Kata Arvan Pradiansyah hal ini membuat kita bersemangat dan
ini merupakan rumus kesuksesan.
Beberapa
tahun lalu saya berada pada tahap ini. Setiap saya merencanakan program
A saya akan menduduki posisi A, dan pada program B, saya akan menduduki
posisi B. Apa yang terjadi
pada kita? Kita menjadi sebuah mesin. Kita menikmati penghargaan nominal
dari apa yang sudah dilaukan. Bahkan kita dapat pujian dari yang kita
lakukan. Seorang teman yang berada pada fase ini, mengucapkan sebuah kata pada moment perpisahannya saat dia resign, tempat ini seperti harimau yang akan menelan saya, maka saya harus berlari. Saya
tahu dia suka melakukannya, meski dengan alas an yang berbeda dia harus
keluar. Saya hanya tersenyum ketika dia berkata begitu, karena saya
pernah merasakannya. Satu hal yang mungkin saat itu tidak dia sadari
adalah saya atau dia sedang kehilangan diri sehingga tidak ada
kebahagian. Mudah2an dia menemukan jalan di tempat berbeda.
Ketika berada pada tahap ini, kata Arvan Pradiansyah, dan menurut saya benar, situasi ini menghasilkan kesuksesan, tetapi kebahagiaan
tidak berpihak kepada saya. Saya hanya pulang ke rumah dalam kelelahan
yang luar biasa bahkan pekerjaan saya bawa pulang. Anak-anak tidak bisa
menghampiri saya untuk bercengkerama. Suami sering komplain karena
sampai di rumah hanya melihat istri yang kelelahan dan tidak fokus
kepada anak. Bahkan dalam keadaan sakit atau cuti mau melahirkan sms dan
dering telpun harus dilayani. Saya TIDAK BAHAGIA. Apakah anda juga
demikian?
Sebagai solusinya, Arvan Pradiansyah menawarkan paradigma ketiga, yaitu melihat pekerjaan sebagai calling (panggilan). Pada mulanya kita berpikir bahwa yang dicari dan harus ditemukan dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Sebagai manusia beragama yang percaya kepada kekuasaan Allah (=Tuhan) maka
kebahagiaan kita adalah sesuatu yang sudah ditentukan atas diri kita
oleh-Nya. Maka kita tidak sedang menjalankan scenario kita. Kita
sesungguhnya harus menjalani skenario Allah. Disinilah kata kunci bahwa Bekerja adalah alasan Tuhan menurunkan kita ke dunia ini dengan sebuah maksud tertentu. Hal
ini merupakan misi hidup dan alas an kita dilahirkan ke dunia ini.
Saya, lagi-lagi setuju dengan Arvan bahwa tidak ada cara lain yang lebih
baik untuk membuat kita selalu bersemangat dalam bekerja kecuali kita
melihat pekerjaan/belajar sebagai sebuah panggilan hidup (calling).
Bekerja/belajar hanya sebagai upaya menyenangkan orangtua atau menyenangkan bos, nilai pekerjaan/belajar yang
kita lakukan berada di luar diri kita. Karena yang kita inginkan adalah
prestasi, uang atau kesenagan orangtua. Tidak ada yang salah dengan
ini. Namun, bayangkan jika kita melihat bahwa belajar/ pekerjaan adalah diri kita. Pekerjaan
/ belajar adalah identitas diri kita. Maka ibadah tersebut benar-benar
lahir dari dalam kesadaran diri. Mungkin inilah yang disebut ibadah yang ikhlas.
Demikianlah saya memaknai ajakan Arvan Pradiansyah.
Bagi para siswa yang mesti back to school, Saya ingin berpesan: mari
kita melihat sekolah sebagai sebuah tempat bagi anda untuk belajar
memenuhi anda sebagai manusia seutuhnya pada saatnya nanti.
Berdasarkan catatan yang pernah di upload di Kompasiana pada 6 Januari 2013
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html
http://edukasi.kompasiana.com/2013/01/06/sekolah-telah-tibai-love-back-to-school-522890.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar